Social Icons

Showing posts with label My Faith. Show all posts
Showing posts with label My Faith. Show all posts

31 Aug 2012

Hidup Sekali Harus Berarti

Hidup Sekali Harus Berarti, Jadi Mengapa Harus Menunggu dan Menunggu untuk Bermanfaat bagi Orang Lain

Hidup Sekali Harus Berarti adalah terjemahan bebas dari salah satu kalimat puisi Diponegoro karya Chairil Anwar yang berbunyi "Sekali Berarti Sudah Itu Mati". Kalau dalam bahasa Jawa ada ungkapan "Wong Urip Iku Mung Mampir Ngombe" yang diartikan dalam bahasa Indonesia adalah "Orang hidup itu diibaratkan seperti istirahat sejenak untuk minum". Ungkapan yang sederhana tetapi makna yang terkandung sangat dalam.

Sering kita tidak pernah berpikir akan kematian padahal kematian itu lebih dekat dari urat leher. Karena itu kita sering menunda-nunda kebaikan; bersedekah kalau sudah punya rumah mewah, membantu fakir miskin kalau diliput oleh media, membantu anak yatim supaya dipuji atasan. Begitu banyak alasan, begitu banyak penundaan.

Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Melakukan apa yang kita bisa (saat ini) agar kita berarti bagi orang lain, negara dan bangsa tercinta ini, dan kehidupan kita pun berarti sebelum kita mati, serta InsyaAllah menjadi tabungan untuk kehidupan kekal nanti.

Sudahkah kita bermanfaat/berarti bagi orang lain, kawans?

Motivasi Berwarna untuk marsudiyanto.net

15 Jun 2012

Siapkah kita...?

"Siapkah kita bila Izrail menjemput malam ini?"

Itu adalah status salah satu teman di facebook yang membuat saya terus berpikir. Ketika awal membacanya, hati sempat bergetar dan terucap di bibir hanya, "Ya Allah". Status itu mengingatkan saya kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika bapak sakit selama dua bulan dan tidak bisa jalan, kata dokter karena syaraf kaki kecepit. Hampir setiap malam saya menangis kalau ingat sama bapak. Bapak adalah orang yang sangat aktif, rajin berolahraga kenapa bisa sampai syaraf kecepit. Alhamdulillah dengan terapi, kaki bapak sembuh dan bisa bersepeda lagi keliling kampung. 

Malam-malam setelah saya berdoa sambil nangis, entah darimana pikiran itu berkelebat, sakit dan sehat, sehat dan sakit, datang silih berganti bahkan (mungkin) ketika kita sudah sangat berhati-hati. Jika ajal menjemputku, apa yang bisa kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Tak terasa hati bergetar tak karuan. Mengingat apa-apa yang sudah kulakukan, antara yang baik dan yang tidak baik, kok rasanya berimbang, malah banyakan tidak baiknya.

Saya sudah solat, sudah ngaji, dan sudah sudah yang lain, tapi sanggupkah hal-hal yang sudah saya lakukan dan saya anggap baik akan menolong saya ketika saat itu tiba. karena hal-hal yang tidak baik pun sering saya lakukan. Mungkin teman-teman mentertawakan saya, masih muda (emang masih??? hehe) kenapa mikir sejauh itu? Kalau tidak terpikirkan sekarang, kapan lagi kita bisa menabung kebaikan sebagai bekal ketika KEPASTIAN itu datang. Ya, kematian adalah suatu kepastian bukan, kadang malah kita sering mengabaikannya.

Di salah satu khotbah Ustad Yusuf Mansur, ada seorang ibu yang mengatakan kepada sang ustad, bahwa beliau telah menyimpan sebuah kalung emas di sebuah bank, sebagai tabungan yang kelak dipakai jika putrinya menikah. Dan jawaban ustad adalah : "Apakah ibu yakin putri ibu akan sampai usianya hingga saat pernikahan?" Ibu itu pun menangis, karena beliau tahu tak ada yang tahu tentang umur seseorang selain Allah Ta'alla, dan ibu pun menyedekahkan kalung itu. Subhanallah.

Ada satu cerita lagi tentang umur, beberapa minggu lalu saya sempat ke Banjarmasin dengan teman-teman kantor (karena acara kantor), salah satu teman bernama Pak Agung, ketika disana sehat-sehat saja. Bahkan sebelum penerbangan dari Banjarmasin ke Semarang (hari Kamis), beliau sempat duduk di sebelah saya dan bercerita tentang anak-anaknya. Hari Jumat, saya masih melihat Pak Agung di kantor. Tetapi pada hari Seninnya, pukul 10 malam saya mendapat kabar bahwa Pak Agung telah dipanggil ke sisi-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Begitu mendadak, karena beliau tidak sakit apa-apa. Tapi dari cerita dari pihak keluarga, hari Sabtu nya, Pak Agung tiba-tiba tidak bisa bicara, dan itu berlangsung sampai ajal menjemput.

Postingan ini hanya sebagai pengingat bagi diri sendiri, mohon maaf bila ada yang tidak berkenan. Pernahkah teman-teman berpikir tentang hal itu? Atau memang saya yang aneh?

"Jika seseorang telah lahir, maka ia sudah cukup tua untuk mati" (NN)

Semoga tulisan ini bermanfaat.


15 May 2012

Sedekah Cinta (2)

Mengapa saya memberi embel-embel angka 2 di judul postingan? Karena saya sudah pernah posting tentang sedekah cinta beberapa bulan yang lalu (bisa dibaca disini).  Kalau yang pertama itu tentang diri saya sendiri, kali ini saya ingin berbagi kabar gembira dari salah seorang sahabat.

Sebut namanya mbak murti, dia seorang wanita dewasa (berusia sekitar 34 tahun), mandiri, dosen di salah satu universitas swasta di Semarang.  Ketika saya akan menikah, ia sempat curhat tentang kehidupan cintanya. Ternyata di balik sikap tenangnya ia menyimpan gejolak yang luar biasa. Sempat bertunangan tetapi putus ditengah jalan, cowoknya yang agak gak bener. Ketika ia melanjutkan studi di Australia, ia bertemu dengan cowok itu di atas trem. “Saat itu mbak, badanku kaku semua, tanganku dingin. Bahkan kata temanku wajahku pucat.” Kebayang kan bagaimana syok nya ia.

Setelah pertunangan yang putus, sulit baginya untuk menerima laki-laki lain di hati. Bukan ia tidak mau menikah, ia sangat ingin menikah, hanya dengan beberapa orang yang dikenalkan ia belum merasa sreg. Saya tidak bisa menyalahkannya, karena walau pun (Alhamdulillah) tidak mengalami putus cinta seperti itu, saya bisa mengerti ketika kita belum menemukan ‘klik’ dengan seseorang. Jodoh itu rahasia Allah. Saat itu saya sempat bercerita tentang sedekah.

Setelah  curhat itu kami tidak pernah lagi membahas tentang kehidupan pribadinya. Ketika kami bertemu biasanya kita ngomongin yang enak-enak aja.  Hingga kemarin ketika kumpul-kumpul dengan teman-teman lain, mbak Murti menyampaikan berita gembira itu. Dia akan menikah akhir Mei ini. Horeee…. Lo kok malah hore???? :D “Saya sempet baca status mbak di facebook, kayaknya lagi berbunga-bunga gitu, tapi gak berani tanya. Alhamdulillah ya mbak.”

Saat itu pun tidak ada teman yang menanyakan bagaimana prosesnya (ah sahabat-sahabatku ini memang luar biasa, gak pernah lo sekali pun kita mengulik hal pribadi satu dengan yang lain, tapi kita saling support).  Cerita mbak murti mengalir sendiri.

“Adik laki-lakiku akan menikah Juni nanti, lalu ibu bilang mau tidak dikenalkan dengan seorang cowok, kalau dengan yang ini juga tidak cocok, ibu tidak mau tahu lagi karena aku selalu gak cocok dengan orang-orang yang dikenalkan.  Akhirnya aku setuju dikenalkan. Dan gak tahu kenapa baik aku dan cowok itu sama-sama langsung oke.” 

Cieeee…… (penyanyi latar bersenandung)

“Memang sudah digerakkan oleh Allah, rumah yang aku beli ternyata ia yang menggambar. Kami diperkenalkan bulan  April dan akhir Mei nanti menikah, cepat banget ya aku sendiri gak nyangka,” ucapnya berbinar. Ah mbak, saya paham perasaan itu, batinku.

“Aku udah gak ikut di tempat ‘X’ lagi (tempat biasanya ia mengeluarkan sedekah). Waktu itu tidak terpikir macam-macam, cuma pengen memberikan makan siang untuk anak yatim. Lalu aku menuju ke salah satu panti yang kutahu, Alhamdulillah anak-anaknya pas lagi kumpul. Saat itu ditanya hajatku apa. Aku pun menyebutkan, dan kami berdoa bersama-sama. Setelah itu dikenalkan dengan cowok itu. Cepat banget prosesnya. Dan kemarin aku mengajak mas-ku ke panti itu untuk berterima kasih dan memperkenalkan calon suamiku. Anak-anak itu senang banget.”

Allahu Akbar. Allah Mahabesar.

Rasanya senang tidak terkira mendengar kebahagiaan sahabat. Ih jadi pengen nangis waktu itu. 

Seorang ustad pernah berkata, “Memberi makan anak-anak yatim apalagi di hari Jumat, pahalanya luar biasa.” Dan saya sudah melihat sendiri kebenarannya.

So sahabat-sahabat Esti yang masih single dan sedang menanti/mencari jodoh, dicoba deh resep mujarab ini. Banyak untungnya tidak ada ruginya. Jodoh yang dicari dengan jalan yang di-ridhoi Allah akan membahagiakanmu. InsyaAllah.

31 Mar 2012

Saya Menjadi Lebih Baik Setelah Berjilbab

 

"Lebih baik menjilbabkan hati dulu daripada sudah berjilbab tapi kelakuannya tetap gak jadi lebih baik".


Sering banget kan kita dengar kata-kata itu dari bibir-bibir muslimah yang belum berjilbab? Saya pun demikian. Pertama kali saya bersinggungan dengan jilbab, ketika saya bertemu dengan seorang cewek yang kemudian menjadi sahabat saya selama masih duduk di bangku SMA. Sebut saja namanya Fitri. Fitri adalah seorang cewek yang manis, baik dan juga pintar (ia selalu ada di ranking 3 besar di kelas). 

Suatu hari ia bertanya, "Kapan kamu mau berjilbab Es?". 

Saya berpikir cukup lama untuk menjawabnya.

"Nanti kalau sudah menikah", jawabku pada akhirnya.

"Hmm...gitu. Sekarang nunggu kalau menikah, kalau sudah menikah nunggu punya anak, kalau sudah punya anak ada alasan lain lagi. Sampai akhir hayat mungkin saja belum berjilbab kan?" 

Benar juga  ya, begitu pikirku saat itu. Tapi pembicaraan itu pun menguar begitu saja, hingga saya pun 'tetap' tidak berjilbab hingga lulus SMA, semasa kuliah, wisuda, kemudian bekerja. Hingga pertengahan tahun 2009, seorang pria memintaku untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Untuk prosesnya lain kali aja ya ceritanya ^_^ 


Ketika kami sudah masuk pada tahap persiapan pernak-pernik pernikahan, saat itulah jawabanku untuk pertanyaan Fitri kembali menyeruak. Sebentar lagi saya akan menikah, bagaimana dengan kata-kataku ketika masih SMA ya. Kata-kata itu memang bukan nazar, hanyalah jawaban sambil lalu daripada tidak ada jawaban. Tapi bagaimanapun kata-kata itu sudah terucap, tidak mungkin ditarik lagi. pertanyaan berjilbab atau tidak berjilbab terus bergema di hati. Mulai menghitung, kalau berjilbab apa saja yang harus disiapkan. Ternyata 'hanya' mental. Karena untuk pakaian panjang dan jilbab saya sudah punya beberapa. Lalu apa yang begitu memberatkan hati untuk berjilbab? Meminjam istilah sekarang, galau banget gitu.


Hingga memasuki bulan Ramadhan kegalauan itu belum mau pergi. Seperti biasa setelah saur saya dan adik menunggu azan subuh sambil nonton serial Para Pencari Tuhan (PPT) besutan tangan dingin Deddy Mizwar. Salah satu episodenya ketika salah satu tokoh, Mira, ditanyai oleh suaminya, Asrul, kapan hendak berjilbab.


"Saya ingin menjilbabi hati dulu Bang Asrul, sebelum memakai jilbab," jawab Mira.


"Apalgi yang kau tunggu , Mira, menjilbabi hati bisa sambil jalan ketika Kau sudah memakai jilbab", sahut suaminya.


Kemudian beragam argumen dilontarkan, hingga Bang Asrul berkata, "Apakah dengan jilbab pemberian ini (ada yang memberi jilbab untuk Mira) tidak kau anggap sebagai petunjuk agar kau berjilbab? Apakah kau harus menunggu hingga Allah memberikan musibah baru kau mau berjilbab."


Begitu kira-kira percakapan mereka yang saya ingat. Dan adegan berikutnya adalah meninggalnya salah satu putra dari Asrul dan Mira. Setelah itu baru Mira mau berjilbab.


Astaghfirullah hal adzim. Jangan sampai musibah datang hanya untuk membuatku memakai jilbab Ya Allah. Sedu sedan ku setelah itu. Hari itu juga saya menyampaikan kepada calon suami bahwa saya akan memakai riasan pengantin muslim ketika kami menikah. 

Mas menyambut baik niat tersebut, "Tapi kalau kamu berjilbab saat menikah setelah itu tidak berjilbab lagi kok aneh ya nok," tanyanya. 
Saya tersenyum kemudian menjawab, "Setelah menikah tentu saja terus berjilbab Mas".
"Alhamdulillah", ucap syukur dari si Mas.


Singkat kata singkat cerita, jilbab sudah saya pakai sejak malam midodareni. Surprise untuk teman-teman kantor ketika mereka datang ke resepsi. Dan alhamdulillah sudah selama dua tahun tiga bulan dan delapan belas hari saya berjilbab. Selama itu pula banyak hal terjadi tentang penampilan. Awal memakai jilbab, saya masih memakai baju-baju pendek disambung dengan dekker. Lama-lama merasa tidak nyaman, saya berjilbab mengapa memakai baju yang bukan untuk yang tidak berjilbab. Rasanya kurang nyaman. Mungkin juga karena faktor U ya, umur maksudnya hehe merasa gak pantes lagi memakai pakaian seperti itu, seperti abg (anak baru gede) aja. Dimulailah mencari-cari kaos dan baju panjang yang pantes. Dari memakai jilbab jadi (langsung blusuk gitu aja) yang jadi favorit ketika itu, karena gak ribet, lalu mulai coba-coba memakai jilbab segiempat, kesannya lebih anggun untuk acara-acara tertentu. 


Dari pengalaman yang belum begitu lama berjilbab, saya merasa dengan memakai jilbab saya menjadi manusia yang lebih baik, saya mulai menata penampilan, tutur kata, dan perilaku. Jilbab tidak menghalangi saya untuk bekerja dan bersosialisasi dengan orang lain, jilbab justru membuat saya lebih dihargai oleh lawan bicara dan teman-teman berjenis kelamin laki-laki. Saya mulai mendalami agama yang saya anut dengan lebih baik lagi. Walau hingga saat ini masih jauuuuh banget dari kata sempurna.

 



Numpang narsis dikit, foto diatas adalah saat pertama kali saya memakai jilbab untuk hari-hari berikutnya. Jangan terkecoh dengan tipu daya make up ya hahaha.

Saya memang terhitung terlambat memakai jilbab, sempat saya sesali aneka warna alasan yang membuat saya selalu mengundurkan saat saya menutup aurat. Menyesal tentu saja tidak berguna, yang bisa saya lakukan saat ini hanya memintaampunan untuk semua dosa dulu mau pun sekarang. 

Mengutip kata-kata teman dari status facebooknya:

"Saudaraku muslimah, menjilbabi hati itu jauh lebih sulit, tapi menjilbabi tubuh itu mudah. Siapkan uang secukupnya, pergi ke toko busana muslim, langsung beli dan pakai. Untuk apa menunda kebaikan, mari lakukan sekarang, saudariku, agar engkau semakin dicintai Allah. Amin."

"Tulisan ini sebagai inspirasi untuk Catatan Hati 10 Maret 2012 - @yankmira #1 Giveaway"