Social Icons

15 Jun 2012

Siapkah kita...?

"Siapkah kita bila Izrail menjemput malam ini?"

Itu adalah status salah satu teman di facebook yang membuat saya terus berpikir. Ketika awal membacanya, hati sempat bergetar dan terucap di bibir hanya, "Ya Allah". Status itu mengingatkan saya kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika bapak sakit selama dua bulan dan tidak bisa jalan, kata dokter karena syaraf kaki kecepit. Hampir setiap malam saya menangis kalau ingat sama bapak. Bapak adalah orang yang sangat aktif, rajin berolahraga kenapa bisa sampai syaraf kecepit. Alhamdulillah dengan terapi, kaki bapak sembuh dan bisa bersepeda lagi keliling kampung. 

Malam-malam setelah saya berdoa sambil nangis, entah darimana pikiran itu berkelebat, sakit dan sehat, sehat dan sakit, datang silih berganti bahkan (mungkin) ketika kita sudah sangat berhati-hati. Jika ajal menjemputku, apa yang bisa kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Tak terasa hati bergetar tak karuan. Mengingat apa-apa yang sudah kulakukan, antara yang baik dan yang tidak baik, kok rasanya berimbang, malah banyakan tidak baiknya.

Saya sudah solat, sudah ngaji, dan sudah sudah yang lain, tapi sanggupkah hal-hal yang sudah saya lakukan dan saya anggap baik akan menolong saya ketika saat itu tiba. karena hal-hal yang tidak baik pun sering saya lakukan. Mungkin teman-teman mentertawakan saya, masih muda (emang masih??? hehe) kenapa mikir sejauh itu? Kalau tidak terpikirkan sekarang, kapan lagi kita bisa menabung kebaikan sebagai bekal ketika KEPASTIAN itu datang. Ya, kematian adalah suatu kepastian bukan, kadang malah kita sering mengabaikannya.

Di salah satu khotbah Ustad Yusuf Mansur, ada seorang ibu yang mengatakan kepada sang ustad, bahwa beliau telah menyimpan sebuah kalung emas di sebuah bank, sebagai tabungan yang kelak dipakai jika putrinya menikah. Dan jawaban ustad adalah : "Apakah ibu yakin putri ibu akan sampai usianya hingga saat pernikahan?" Ibu itu pun menangis, karena beliau tahu tak ada yang tahu tentang umur seseorang selain Allah Ta'alla, dan ibu pun menyedekahkan kalung itu. Subhanallah.

Ada satu cerita lagi tentang umur, beberapa minggu lalu saya sempat ke Banjarmasin dengan teman-teman kantor (karena acara kantor), salah satu teman bernama Pak Agung, ketika disana sehat-sehat saja. Bahkan sebelum penerbangan dari Banjarmasin ke Semarang (hari Kamis), beliau sempat duduk di sebelah saya dan bercerita tentang anak-anaknya. Hari Jumat, saya masih melihat Pak Agung di kantor. Tetapi pada hari Seninnya, pukul 10 malam saya mendapat kabar bahwa Pak Agung telah dipanggil ke sisi-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Begitu mendadak, karena beliau tidak sakit apa-apa. Tapi dari cerita dari pihak keluarga, hari Sabtu nya, Pak Agung tiba-tiba tidak bisa bicara, dan itu berlangsung sampai ajal menjemput.

Postingan ini hanya sebagai pengingat bagi diri sendiri, mohon maaf bila ada yang tidak berkenan. Pernahkah teman-teman berpikir tentang hal itu? Atau memang saya yang aneh?

"Jika seseorang telah lahir, maka ia sudah cukup tua untuk mati" (NN)

Semoga tulisan ini bermanfaat.


34 comments:

  1. Wa'alaikumsalam wr.wb
    Terima kasih sudah mampir :)

    ReplyDelete
  2. pernah kepikiran kok..mkanya suka mikir sblum jahatin orang atau mau ninggalin shalat...
    mksi udah ingatin..

    ReplyDelete
  3. umur tidak ada yang tahu ya selain Allah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, semoga kita semua selalu dalam lindungan_Nya, amin3

      Delete
  4. Setiap kehidupan pasti ada kematian
    Kematian adalah suatu misteri yang tidak bisa diprediksi
    Kita tidak pernah tahu maut kan menjemput
    Pernahkah berpikir kematian akan datang sesegera mungkin
    Sementara kita meyakini adanya kematian
    Tapi kita tidak segera mempersiapkan menghadapi kematian
    Kita meyakini atas kenikmatan surga
    Tapi masih malas beribadah agar bisa masuk surga
    Kita meyakini atas pedihnya siksa neraka
    Tapi enggan meninggalkan maksiat agar terhindar dari api neraka
    Sesungguhnya orang yang perkasa adalah
    Orang yang banyak mengingat kematian
    Dan yang sungguh-sungguh dalam mempersiapkan
    Dan menghadapi datangnya kematian

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiks iya mas, sering sedih kalau ingat kelakuan diri sendiri

      Delete
  5. KAlo berbicara tentang umur suka sediih..
    samapai kapan kita akan menemani orang2 yang kita sayangi..
    seolah-olah hari ini adalah hari terakhir..Tidaaak..!!

    hiks..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiks iya mbak
      semoga yang terbaik yang diberikan Allah untuk kita ya
      amin3

      Delete
  6. Banyak2 ingat akan kematian, dengan begitu ibadah akan semakin khusyuk. Seakan akan sholat kita adalah yang terakhir, mengaji kita adalah yang terakhir...

    ReplyDelete
  7. Duh... ajal emang gak ada yang tahu ya kapan... takut...
    Etapi aku masih gak ngerti maksud cerita Yusuf Mansur itu. Gak salah kan nyimpen harta buat nanti?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya una, aq jg takut T.T
      memang tidak salah bila menyimpan harta, untuk kehidupan kelak atau utk anak2, tetapi si ibu menyimpan untuk sesuatu yg berkaitan dg umur, yg cm Allah yg tahu sampai kpn kita hidup

      Delete
  8. Harus siap kapanpun dijemput ya mbak... Kalopun ngga siap ya akan tetep dijemput paksa ...

    ReplyDelete
  9. Tak ada yg aneh dengan pemikiran itu. Karena manusia tak lepas dari namanya kematian. Semakin umur bertambah maka semakin berkurang juga sisa hidup yang Allah berikan. Layaknya sebuah pohon di musim semi yg akan berguguran ketika musim gugur tiba dan mengering ketika musim dingin. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, harus selalu siap setiap saat ya (kok malah kayak bahasa iklan??) :)

      Delete
  10. ya pernah kok kepikiran spt itu. jadi gak aneh kok hehehe

    ReplyDelete
  11. Saya juga mempersiapkan bekal untuk mati mbak Esti, sahabat saya yang istiqomah juga gitu. Oh ya, saya follow dan taruh linknya di blog saya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak ami, sama2 mempersiapkan diri ya. oke mbak, tar aq folback :)

      Delete
  12. siap ga siap harus selalu siap....hal apapun itu.

    ReplyDelete
  13. Di depan Sang Pencipta kita adalah makhluk tanpa daya. Begitupun di hadapan sang maut kitapun bukan siapa-siapa. Jadi kita diciptakan, eksis lalu lenyap...Itu lah kita..Tulisan yg sangat dalam Mbak Esti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bu evi. tinggal bagaimana kita menisi hidup untuk hal yg bermanfaat. hehe iya nih, gak tahu kesambet apa :)

      Delete
  14. umur kita sudah digariskan ama yang kuasa..tinggal kita bisa memanfaatkan umur itu dng baik dan bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak iis, semoga kita semua bisa bermanfaat bg orang lain.

      Delete
  15. sangat inspiratif mbak.
    Emang, kadang orang kalo gk diingatkan suka lupa..
    salam kenal.. hehe

    ReplyDelete
  16. Assalaamu'alaikum salam ukhuwah n perkenalan mb..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar ^_^