Social Icons

14 Apr 2013

Bermain Bola

8 MInggu Ngeblog
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Pernah kan melihat iklan anak-anak yang bermain sepakbola yang kemudian bolanya mengenai jendela salah satu tetangga dan memecahkannya? Kalau kita lihat di televisi sepertinya lucu ya. Akan tetapi percaya deh, kalau jadi pemilik rumah yang jendelanya kena bola, jengkelnya bukan main.

Rumah mungil saya terletak di gang sempit yang cuma cukup untuk dilewati satu mobil. Sedangkan halaman rumah kurang lebih 2,5x8 m. Cukup deh buat parkir satu mobil. Dan masih ada sisa untuk menaruh pot beberapa pot bunga. Rumah-rumah di sekitar rumah saya pun hampir sama semua tipikalnya. Dengan dinding yang berdempet satu sama lain. Tipikal rumah kota gitu.

Karena kesehatan yang kurang baik, beberapa hari belakangan saya selalu pulang tepat waktu. Jadi sampai rumah sekitar pukul setengah empat sore. Maksud hati ingin langsung beristirahat. Supaya malamnya bisa mengerjakan tugas kantor yang saya bawa pulang. Baru saja membaringkan tubuh, sudah terdengar suara ramai anak-anak di depan rumah yang bermain bola. Karena biasanya jarang pulang jam segitu, saya tidak tahu kondisi keadaan rumah dan sekitarnya pada saat-saat itu. Anak-anak itu bahkan berani membuka pagar rumah dan bermain di halaman rumah saya. Waktu itu suami belum pulang, sehingga halaman memang kosong.

Sebagai penghuni rumah yang berada tepat di sebelah jalan tol, saya sudah berdamai dengan kebisingan. Dan saya pun paham, anak-anak itu tidak punya lahan bermain. Selama mereka tidak merusak tanaman dan barang-barang lain, saya tidak mempermasalahkan. Jadi saya hanya diam dan berusaha memejamkan mata.

“Jeder!”

Saya tergeragap bangun dengan kepala pening. Bola mengenai salah satu jendela rumah. Saya masih bisa menahan diri dan tidak langsung keluar rumah. Saya mengintip dari balik korden. Anak-anak itu masih asyik bermain dan bersikap cuek dengan kejadian barusan. Sekitar pukul lima sore, mereka pulang ke rumah masing-masing.

---000---


Kejadian yang sama berulang lagi keesokan siangnya. Anak-anak mulai berdatangan, membuka pagar, dan mulai bermain. Dan suara 'jeder' di jendela terdengar beberapa kali. Maksud hati ingin beristirahat, malah kepala pusing yang saya dapat. Ketika saya mencoba memperlihatkan bahwa saya berada di dalam rumah. Anak-anak itu tetap cuek melihat kehadiran saya. 

Astaghfirullah hal adzim.

Saya tidak ingin ribut dengan tetangga. Apalagi saya dan suami termasuk warga baru. Jadi saya hanya diam saja. Saya pikir, lebih baik memakai cara halus untuk membuat mereka tidak bermain di halaman rumah saya. Esok harinya, sepulang kantor, saya mampir dulu ke toko bangunan dekat rumah. Saya membeli gembok pagar. Begitu sampai di rumah, pagar saya tutup dan saya gembok. 

Dan Anda tahu apa yang terjadi setelah itu? Anak-anak itu malah memanjat pagar rumah dan bermain di dalam halaman. Duh duh. Saya masih diam. Akan tetapi, begitu bola mengenai kaca jendela lagi. Saya langsung keluar dan menyuruh mereka bermain di tempat lain. Dengan bersungut-sungut mereka keluar. Bahkan ada yang menirukan kata-kata saya. Saya hanya mengelus dada.

Sejak saat itu, pagar rumah selalu saya gembok. Bukan karena pelit, tetapi kalau sampai kaca jendela pecah kan yo bayaran to. Apa mau orang tua mereka mengganti kaca jendela yang pecah itu? Anak-anak itu masih bermain dengan ramai di jalan depan rumah saya. Bahkan ketika tetangga sebelah rumah mulai terganggu juga dan mengingatkan mereka. Mereka hanya pergi saat itu dan kembali keesokan harinya. Haha!

Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, kenapa mereka tidak bermain di depan rumah mereka saja.  Toh, jalan yang dipakai lebarnya juga sama. Menurut teman-teman apa jawabannya?

49 comments:

  1. Mungkin pemilik halaman rumahnya cantik. *loh

    Pasti ruameee banget ya mbak?
    Anak-anak itu susah sekalee dibilangin ya -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rame sekaleeee
      Iya namanya saja anak2 :)

      Delete
  2. mungkin... mereka itu suka tantangan, jadi maen bolanya disitu terus.... biar ada adegan 'kaburnya' hehe

    ReplyDelete
  3. nasib kita sama mba Esti, di rumahku juga begitu, apalagi aku tinggal di kampung dengan populasi anak2 yg luar biasa banyak. adaaaaa aja yg bikin berisik. emang sih khas anak2, cerianya itu menyenangkan. tapi klo udah mulai manjat sana sini, bola masuk ke halaman belakang, naek pohon mangga utk ambil mangga, clingak clinguk meh 'ngopek' blimbing wuluhku, wah waaaahhh....
    Untungnya si empunya rumah udah terkenal galak, jadi tinggal buka pintu and memandang 'mesra' mereka pasti udah lari tunggang langgang hehehheheee... sing sabar yo mba ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Qiqiqi memandang 'mesra'
      Saking mesranya trus pada kabur ya Mbak :)

      Delete
  4. Anak2 tidak memiliki lapangan bermain, padahal mrk membutuhkannya. Pasti ada hal yg menyebabkan mrk suka bermain di sekitar rumah mbak Esti. Mungkin lebih teduh, mungkin auranya lbh menyenangkan, atau mungkin kalau cuma depan rumahnya saja ga berasa mainnya. #sok analisis :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bun, kasian sebenarnya
      Hehehe kayaknya analisa terakhir itu yg bener :)

      Delete
  5. Karena mereka lebih nyaman main di depan rumah ibu budhi. . . :P
    Lagipula, kalau mereka main di depan rumah mreka, pasti langsung dimarahi orang tua. :)

    ReplyDelete
  6. kalau didepan rumahku sudha pasti gak ad yang main bola mbak hehehe baru sebentar main pasti minggir karena mobil lewat

    ReplyDelete
  7. kisah ini hampir sama dengan yang saya alami, pagar rumah saya sering dijadikan sebagai gawang saat mereka bermain bola, awalnya dibiarkan, namun lama kelamaan jadi mengganggu mendengar suara bola bertemu dengan besi pagar setiap hari, akhirnya saya melarang anak-anak itu menggunakan pagar rumah saya sebagai gawang, dan saya hanya mengatakan kalau pintu rumah kalian di jadikan gawang apakah kalian mau....dan jurus itu luayan tokcer lah,...,
    alasan kenapa mereka bermain di jalan di depan rumahku, karena kalau bermain di depan rumah mereka...orangtuanya akan melarangnya, namun cukuplah saya melarang mereka menjadikan pagarku sebagai gawang, namun saya tidak melarang mereka bermain bola di jalanan depan rumahku....kasihan, karena mereka tidak punya tempat bermain lagi ,
    btw-selamat berlomba ya...salam sukses selalu :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya Pak, anak2 memang susah kalau gak dibilangin. dibilangin aja susah apalg cuma didiemin :)

      Delete
  8. Karena kalo maen di depan rumah mereka sendiri, mereka dimarahin emaknya mbak.
    Kalo emaknya yg marah kan bs diomelin seharian, klo tetangga yg marah kan gk perlu denger omelan tetanhga seharian mbak :) *sotoy*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha kalo di depan rumah saya paling cuma bentar aja ya dimarahinya :)

      Delete
  9. Waduh,
    kok mereka main nya di depan halaman kita yah?

    Trus orang tua mereka cuek aja dan gak negur gitu yah?

    Kalo ditempatku sih mah dari sore sampe maghrib anak2 main nya di halaman mesjid, jadi gak nge ganggu siapa pun...
    Paling bikin berisik yang lagi ngaji, tapi udah biasa sih, jadi cuek aja...hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bi, ortunya cuek aja, kesel kan
      Hahaha kasian atuh yg ngaji

      Delete
  10. Saya juga suka main bola waktu kecil
    Bolanya dario kertas atau klaras yang ucel2 lalu dirajut pakai tali dari batang pisang (debhok)
    Nggak mampu beli bola beneran waktu kecil
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe kalau dulu memang bola sepak mihil ya Dhe

      Delete
  11. kayak adekku, mba. halaman depan yang ada ubinnya itu malah buat main bola. hahaha. di samping rumah padahal ada yang halamannya lebih luas. :P ya, mungkin maunya di situ kali ya, jadi kalo dibilangin pun masih ngeyel. ya, namanya juga anak2 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha apalgi adik sendiri ya, jengkelnya tambah2 :)

      Delete
  12. Wah Mbak, rumahnya nggak bisa punya pohon buah-buahan kalo begitu, pasti selain alesan ngambil bola, nanti banyak yang manjat pohonnya juga deh wkwkwkkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk gak cukup kalo ditambahin pohon buah Mbak :)

      Delete
  13. sebenarnya kasihn anak anak itu ya
    mereka membutuhkan lahan tanah lapang untuk bermain bola
    sayangnya jaman sekarang susah menemukan tanah lapang di perkotaan...
    taman kota aja sempit sempit dan banyak yang berubah fungsi

    mengesalkan memang kalo permainan bola mereka mengganggu ketenangan kita ya Mbak

    semoga mereka menemukan tempat yang lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, semoga saja ini jadi perhatian pihak yang berwenang, anak2 juga perlu ruang publik utk bermain :)

      Delete
  14. namanya anak-anak mbak, kalau dah main pasti cuek dengan sekitar...

    ReplyDelete
  15. Haduh malah masuk pekarangan?
    Anak2 sini mirip itu juga sih mbak, ribut. Tapi kalo pekarangan rumah orang tertutup walau tidak digembok ya mereka tidak masuk ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, agak keterlaluan memang
      Sukur lah kalau disana anak2nya gak bandel :)

      Delete
  16. salah satu anak-anak yang main bola itu aku loh mbak.. dan saya yang nyuruh meloncat pagar rumah sampean hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ckckck..pantesan podo ndableg, jebul sampeyan to :P

      Delete
  17. Karena mereka tidak diijinkan main di halaman rumah masing2 kali mbak sama orang tuanya.... Kalau di rumahnya mbak Esti khan ga ada yang marahi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iya ya Mbak, saya gak tega kalau marahi sebenarnya :)

      Delete
  18. hik hik hik saya sedih mendengar bahwa dimana-mana anak-anak kita engga mempunyai lahan yang luas buat bermain, karen lahan kosong sudah banyak yang beralih fungsi menjadi bangunan, tidak seperti waktu saya kecil dulu, bebas bermain karena banyak lahan kosong, sebenarnya kasihan mereka, disamping itu orangtuanyapun lebih sibuk dengan dunianya masing-masing, sibuk dengan agenda mereka tanpa memperdulikan kebutuhan dasar anak berupa aktivitas bermain yang sebenarnya sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial anak kelak jika dewasa, sabar ya mba esti. semoga kacanya segera diganti oleh Allah dengan yang lebih baik lagi,aaammiinn!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget Mbak. Orang tua sibuk, gak sempat memperhatikan anak2 :(

      Delete
  19. Bersyukuuurrr Jeeeeng.... Halaman dan gang depan rumah masih jadi arena main bola. Rumah saya mojok di belakang kantor kecamatan. Terpisah tembok yang jadi pembatas gang. Halaman rumah kontrakan saya lebaaaarrrrr dan banyak pohon kelapanya. Gang depan rumah sepi. Gelap gak ada lampu di jalan gang karena memang minim penghuni. Alhasil.... Suami saya capeekkk jadi satpol PP ngobraki anak pacaran di gang depan. Masih untuuung depan rumah panjenengan cuma jadi arena main bola. Depan rumah saya jadi arena "main bola" je.... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, bolanya dalam tanda kutip ki :(
      Tambah sedih lagi

      Delete
  20. wah ya emang harus ditegur ya anak2 itu. bukan masalah pelit atau apa, tapi kan anak2 itu masuk tanpa ijin. ini masalah etika. kalo gak dibilangin, ntar terbawa sampe mereka gede dikira emang apa yang mereka lakukan itu bener.

    belum lagi kalo sampe mecahin kaca, ntar malah panjang urusannay ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang untuk anak2 ini etikanya kurang, dan saya lihat sepertinya sekarang banyak anak2 model begini
      Gak tahu kenapa, klo sm barang org seenaknya saja
      Di rumah ortu juga sama masalahnya

      Delete
  21. karena mereka ngarep ditawarin minum mba, xixixi. namanya anak2 yah susseeeh dibilangin

    ReplyDelete
  22. Mungkin rumah Mbak Esti halamannya paling oke, hihihi xD
    Sabar ya mbak, pukpuk...

    ReplyDelete
  23. Hehe, kalau ada anak-anak yang begitu masuk halaman rumah, pasti langsung ditegur sama bapakku. Tapi jarang sih ada anak-anak yang masuk trus main bola, karena dekat rumah masih ada tanah lapang yang bisa dijadikan tempat main. Cuma kalau lagi musim layangan, pasti deh ada aja yang jalan-jalan di tembok pagar. Kalau ada yang kegap mau naik, langsung pakai tatapan tajam & kubilang "turun ya" hehe

    ReplyDelete
  24. Hihihi... itulah dunia anak2 mba. Rumah mertua saya juga sama, halamannya dijadikan temapt bermain anak2. Kadang saya suka kesal, kalo anak saya sedang tidur, tapi di luar rame anak2 bermain.

    ReplyDelete
  25. Jangan diambil hati, tiap kali main dimarahin saja, kalau dipendem ntar kita yang sakit...
    Mungkin ini toleransi ala kita di Indonesia, yang artinya maklumin dong GUE!!!
    Gue mau pakai punya loe, relain ya biarpun ganggu sama yang punya, masalahnya Gue butuh.... (butuh tempat bermain maksudnya)
    Misalkan sudah gak ada tempat parkir, kita kembali ke rumus toleransi yang diajarkan dipelajaran moral dulu waktu di SMP-SMA, "maklumin dong gue parkir di belakang kendaraan loe, gue butuh...."
    Kita harus kasih toleransi kita biarpun kendaraan kita tidak bisa keluar hik hik...

    ReplyDelete
  26. Mohon saran.
    Saya baru menempati rumah baru selama 1 minggu.
    Ternyata sebelum saya tempati, memang sudah sering setiap sore bemain bola depan rumah.
    Tapi karena saya masih baru, saya merasa gak enak untuk menegur anak2 yang bermain bola.
    Apakah saya langsung lapor rt/rw yah?
    Atau klo mau di tegur, saya juga masih belum ada 2 minggu..

    ReplyDelete
  27. http://m.hukumonline.com/klinik/detail/lt539feac9a0606/terganggu-anak-anak-tetangga-yang-bermain-bola-di-depan-rumah

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar ^_^