Social Icons

Showing posts with label Renungan & Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Renungan & Motivasi. Show all posts

14 Oct 2015

Buatan Indonesia

bendera peta Indonesia
gambarterbaru,com

Seringkali kita dengar iklan yang mengatakan ‘cintailah produk-produk Indonesia’. Beberapa hari lalu saya membaca berita lama tentang produk Indonesia

Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengatakan dengan adanya Foxconn di Indonesia, maka keinginan tersebut akan lebih mudah terwujud. "Barang-barang yang kamu pakai sekarang (Handphone) nanti Made in Indonesia," ungkap Hidayat di kantornya, Jl Gatot Soebroto(detik.com)

Wah bangganya sebentar lagi kita memiliki HP (handphone) made in indonesia. Eit's....jangan besar kepala dulu. coba kita terjemahkan di Google translate kata made in indonesia. Sudah di coba? belum pasti. Yah singkatnya saya sudah mencobanya dan terjemahan yang muncul dari made in indonesia adalah "dibuat di Indonesia". Banyak barang tertulis made in indonesia, eh ternyata selidik punya selidik pemiliknya adalah orang-orang asing. Trus komponen penyusun produknya juga dari luar indonesia hanya di rakit di Indonesia dan akhirnya dilabel made in indonesia.

22 Sept 2015

Bekerja dan Uang

Dulu sekali ada seseorang yang pernah berkata kepadaku, "ketika kamu bekerja, bekerjalah dengan sungguh-sungguh sehingga menghasilkan yang terbaik, jangan dulu berpikir tentang imbalannya, jika kamu bekerja dengan baik, maka uang akan mengikuti dengan sendirinya".
Saat itu, aku masih terlalu belia untuk memahami perkataan beliau, tetapi sejak aku bekerja, mulai dari ngelesi bahasa inggris dan kemudian di kantor sekarang, aku bekerja sebaik mungkin. Setelah beberapa tahun baru bisa kumengerti maksud 'petuah' tersebut. Awal bekerja, boro-boro tugas luar kota, kadang cuma diberi pekerjaan-pekerjaan remeh bahkan gak ada kerjaan sama sekali. Kubawa santai aja. Toh rejeki gak akan lari kemana, anggap aja belum rejeki. Setiap diberi pekerjaan, walo remeh sekalipun, aku berusaha mengerjakan sebaik-baiknya.

Jika saat ini banyak orang yang menganggap betapa enaknya pekerjaanku karena sering luar kota, dapat tambahan uang yang tidak sedikit dsb. Aku cuma tersenyum. Ada tiga kisah yang ingin kutulis disini berkaitan dengan hal di atas.Yuk langsung aja kita tulis...ups baca maksudnya ^-^

18 Sept 2015

Orang Kaya


Apa sih sebenarnya standar disebut sebagai orang kaya? Apakah kalo punya rumah guede, mobil bagus, punya barang-barang ber-merk terkenal(terkenal mahal maksudnya hehe, atau punya posisi tertentu di kantor? Mungkin sekitar-sekitar itu kali ya.

Manusiawi sekali bila kita sering membedakan antara si "kaya" dan yang "tidak kaya" Pada si "kaya", kita lebih menaruh respek, bicara dengan tutur kata yang manis (ato dimanis-maniskan ya?) kalo si "kaya" punya kerja, misal: menikah atau menikahkan anaknya, kita cenderung 'menyumbang' lebih banyak daripada ketika kita menyumbang yang "tidak kaya". Aneh ya. Sudah kaya.. eh masih aja orang-orang nyumbang lebih banyak, apalagi kalo perhelatan di tempat mahal (orang kaya gitu lo)

5 Sept 2015

Golput: Kisah Air dan Minyak

Sebuah kisah di suatu negeri antah-berantah. Negeri tersebut sedang mengalami keterpurukan ekonomi yang cukup gawat. Saking gawatnya keadaan negeri itu, maka pimpinan negeri meminta bantuan pada rakyatnya. Bantuannya bukan hal yang memberatkan, seperti menyumbang emas atau benda berharga lain. Mereka hanya meminta rakyat untuk menyumbang satu sendok minyak goreng.

Pimpinan negeri itu memang tidak ingin menyusahkan rakyat yang memang sudah susah. Lagipula menurut perhitungan ahli ekonomi negeri tersebut jika masing-masing warga menyumbang satu sendok minyak. Maka minyak yang terkumpul sudah cukup banyak dan bisa dipakai untuk memperbaiki keadaan ekonomi negeri. Minyak tersebut rencananya akan dijual ke negeri tetangga. Dan uang hasil penjualannya digunakan untuk kepentingan negeri.

1 Sept 2015

Milih Upacara atau Perang?

Kemarin sehabis upacara bendera, aku dan teman-teman sarapan soto bareng. Bercerita tentang macam-macam. Hingga aku melontarkan pertanyaan basa-basi kepada seorang teman, “Anak-anak udah masuk sekolah ya, Mbak?”

Teman pun menjawab, “Harusnya hari ini, Mbak Esti. Sekalian upacara. Tapi kusuruh di rumah aja.”

“Lho, kenapa?” tanyaku heran.

“Lha wong cuma upacara aja kok terus pulang. Mendingan di rumah aja, jadi aku gak repot nganter ke sekolah segala,” jawab si teman dengan santai.

“Lalu alasannya apa ke sekolah? Bukannya upacara 17-an itu wajib,” cecarku lagi.

“Ah, gampang. Aku telpon aja sama gurunya bilang kalau anakku sakit,” tetep dengan nada kalem.

10 May 2012

Menganggap Diri (Kita) Yang Terbaik


Apakah teman-teman pernah atau sedang mengikuti serial To Liong To yang saat ini sedang tayang di Indosiar? Bagi yang pernah nonton pasti sudah akrab dengan Tio Bu Kid an pemeran-pemeran lainnya. Saya sudah pernah menontonnya (dulu) dan saat ini pun masih mengikuti, karena ceritanya bagus dan tidak membosankan.

Di salah satu episode  yang telah lalu ada yang membuatku tergelitik untuk berpikir kritis (hasyah gaya bangetz). Waktu episode itu diceritakan ketika Ciu Ci Jiak diminta bersumpah oleh gurunya tidak akan menikah dengan Tio Bu Ki, karena pria itu adalah ketua dari partai yang dianggap ‘sesat’ sedangkan mereka berasal dari partai ‘lurus’.  Setelah si murid bersumpah dengan dituntun gurunya, gurunya mengatakan bahwa si murid harus berusaha untuk mendapatkan Golok Pembunuh Naga dan Pedang Langit sekaligus karena di dalam kedua benda pusaka tersebut ada kitab ilmu yang sungguh luar biasa, ilmu itu bisa digunakan untuk membuat partai mereka menjadi nomer satu di dunia persilatan.

Sang guru tidak hanya membeberkan bagaimana cara mendapat kitab ilmu tersebut tetapi juga meminta muridnya untuk mengambil kedua pusaka tersebut dengan cara yang kurang terpuji yaitu dengan menggoda Tio Bu Ki dan berpura-pura jatuh cinta padanya.

Ketika melihat adegan ini, saya sempat menyelutuk, “Loh katanya partai ‘lurus’ tapi kok melakukan perbuatan seperti itu untuk menggapai tujuan.” Walau pun si guru tetap keukeuh mengatakan bahwa itu untuk tujuan mulia tetap aja kan menggunakan cara tidak terpuji. Lagipula, untuk mengangkat nama partai bukankah lebih baik menciptakan ilmu/jurus yang baru bukan malah merebut apa yang dimiliki orang lain.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan saya juga pernah (bahkan tidak cuma sekali) juga melakukan hal tersebut. Beranggapan bahwa apa yang kita lakukan untuk mencapai tujuan yang ‘mulia’ tetapi dengan cara-cara yang tidak baik. Misalnya saja mencontek, toh itu untuk mendapatkan nilai yang bagus. Padahal jelas-jelas kita tahu nyontek itu dilarang (saya gak pernah nyonek lo ;P )

Dan lebih ekstrim lagi ketika saya mendengar cerita salah seorang teman yang kebetulan dia menjadi bendahara di salah satu organisasi. Mereka (para pucuk pimpinan organisasi) sering bagi-bagi duit sisa proyek, karena ada anggapan bahwa mereka lah yang berjasa mendapatkan dan melaksanakan proyek tersebut. Ahhh sebut saya kuno atau ndeso, mungkin itu hal lumrah yang terjadi dimana-mana. Kita sering meminta lebih untuk sesuatu yang kita sebut sebagai ‘hak’ tapi sering lupa dengan saudara yang bernama ‘kewajiban’.

Pikiran saya semakin ngelantur kemana-mana, jangan-jangan oh jangan-jangan para koruptor juga berpikir hal yang sama…Ups gak usah ngomongin politik deh,  ntar malah berabe.

Pernahkah teman-teman merasa paling ‘berjasa’ sehingga merasa ‘pantas’ mendapatkan ‘lebih’ dari yang lain????

5 Aug 2010

I Dreamed A Dream (Belajar dari Susan)


I dreamed a dream in time gone by
When hope was high and life worth living
I dreamed that love would never die
I dreamed that God would be forgiving

Then I was young and unafraid
And dreams were made and used and wasted
There was no ransom to be paid
No song unsung, no wine untasted

But the tigers come at night
With their voices soft as thunder
As they turn your hope apart
As they turn your dreams to shame

And still I dream heÂ’d come to me
That we would live the years together
But there are dreams that cannot be
And there are storms we cannot weather