Social Icons

17 Aug 2019

Grow Happy Parenting For Happy Family

Sebagai ibu dengan 2 anak balita terkadang saya berpikir, "Sudahkah saya menjadi orang tua yang cukup baik bagi anak-anak saya?" Setelah anak kedua lahir, saya agak kesulitan menghadapi si kakak yang berusia 4,5 tahun. Ada kecemburuan, ada rasa cari perhatian, serta ada rasa "terpinggirkan" yang saya tangkap dari dalam diri si kakak. Padahal sebagai ibu, saya sudah berusaha semaksimal mungkin mendahulukan si kakak daripada adik. Sering kali ketika meminta atau menginginkan sesuatu maka beriringan dengan tangisan dan merajuk. Sedangkan saya tidak betah mendengarnya, akhirnya saya ikut emosi dan terkadang sampai berkata dengan nada cukup keras ke kakak. Walau pun setelahnya saya merasa bersalah dan meminta maaf ke kakak. Selalu terselip rasa bersalah yang membuat semakin bertanya, "Ibu seperti apa saya ini?"

Dan ketika komunitas gandjel mengabarkan akan ada seminar yang bertema, "Grow Happy Parenting: Happy from the Inside Out". Saya antusias sekali ikut, karena merasa saya butuh materi tentang itu. Seperti apa sih happy parenting itu dan bagaimana efeknya dalam mendidik anak-anak. Karena saya ingin anak-anak bahagia dalam kehidupannya saat ini dan di kemudian hari.


Apa itu happiness?



Acara media gathering ini dibuka oleh mbak Dita sebagai perwakilan dari Lactogrow. Di awal materi mbak Dita sudah bertanya, "Happiness itu apa? Dan rasa bahagia seperti apa yang kita rasakan?" Kalau saya menjawab dalam hati, "Bahagia menurut saya bisa melihat anak-anak dan keluarga bisa berkumpul bersama dalam keadaan sehat dan senang". Mungkin ini juga dikarenakan saya dan suami yang LDM dan saya ibu bekerja jadi bertemu anak-anak hanya di saat setelah pulang kerja dan weekend.

Otak yang Cerdas berawal dari Pencernaan


Pernah gak sih terpikirkan tentang hal ini? Kalau saya sih jujur tidak haha. Kalau pinter mah pinter aja gak ada hubungan sama perut. Tapi Dokter Ariani kemudian menerangkan dengan gamblang bagaimana pencernaan itu berpengaruh pada pencernaan.

"You Are what You Eat" Pernah dengar kan slogan ini? Apa yang kita makan itu yang akan membentuk kita baik secara fisik mau pun psikis. Pencernaan anak-anak sedang berkembang karena itu mereka butuh asupan gizi yang seimbang agar pencernaan berkembang dengan baik.

Apa jadinya kalau mereka sembelit, makan sembarangan dan terlebih makan tanpa gizi yang cukup. Pasti mereka tidak akan bisa berkembang dengan baik. Bayangkan perut sedang sebah terus diajari, "Kak, warna merah bahasa Inggrisnya apa". Yang ada anaknya malah rewel haha.

Mumpung belum terlambat, yuk mulai ditata lagi makanan anak-anak agar pencernaannya menjadi baik. Anak-anak bisa fokus ke kegiatannya, baik kegiatan bermain, belajar dan bersosialisasi.

Happy Parents, Happy Kids



Dulu sekali saya pernah mendengar bahwa jika kita hendak membahagiakan orang lain maka kita sendiri sudah dalam keadaan bahagia. Karena kebahagiaan itu menular. Karena itu dekat-dekatlah dengan orang yang bahagia.


"Bapak ibu pengen punya anak yang bahagia atau anak yang pintar?" Pertanyaan psikolog cantik yang dipanggil Mbak Lizzy ini cukup menohok. Membuat saya berpikir, kalau anak saya bahagia tapi tidak pintar apakah saya mau, dan jika terjadi sebaliknya bagaimana? Tuh, kan, jadi mikir haha.

Mbak Lizzy berkata, "Anak yang bahagia akan menjadi anak yang pintar, karena dia akan happy dengan semua yang dialaminya. Ketika belajar, dia akan belajar dengan bahagia sehingga pelajaran akan terserap dengan baik.

Lalu, bagaimana orang tua yang tidak bahagia bisa membesarkan anak yang bahagia? Tentu saja jawabannya tidak. Karena itu berusahalah untuk berbahagia wahai orang tua agar anak-anak juga tumbuh bahagia sekarang dan kemudian hari.


No comments:

Post a comment

Terima kasih sudah meninggalkan komentar ^_^