Social Icons

8 Mar 2013

Namanya Haydi

Namanya Haydi, singkatan dari nama bapak dan ibunya, Hayat dan Dira. Saya mengenal Mbak Dira karena Mbak Dira adalah kembaran salah satu sahabat saya ketika kuliah di pascasarjana, namanya Mbak Tira. Saya sangat terkesan dengan sosok Haydi sejak pertama kali bertemu. Waktu itu, ibu Haydi, saya memanggilnya Mbak Dira, datang ke rumah untuk mengantar beberapa barang pesanan saya.

Mbak Dira: “Assalammu'alaikum”.
Saya : “Wa'alaikumsalam. Masuk, Mbak!” (ketika membuka pintu saya sempet kaget melihat sosok anak kecil di sebelah Mbak Dira, dan cowok kecil itu juga ikutan membawa barang dagangan emaknya haha).
Si Haydi
                
Setelah suguhan dikeluarkan, saya pun menyapa si cowok kecil.
Saya: “Namanya siapa, Mas?”
Haydi: “Asmane kulo, Haydi”. (nama saya, Haydi)

Saya pun sempat melongo, kok  menjawabnya pakai bahasa Jawa krama (bahasa Jawa paling halus tingkatannya). Langsung deh flasback teringat cerita Mbak Tira, kalau keponakannya ini memang diajari berbicara memakai bahasa Jawa krama oleh bapak dan ibunya kalau di rumah. Yah, enggak mungkin kan ya, kalau saya bicara dengan Haydi dengan bahasa Indonesia.

Saya : “Haydi sak niki kelas pinten?” (Haydi sekarang kelas berapa?)
Haydi : “Haydi sak niki TK nol kecil”. (Haydi sekarang TK nol kecil)
(Pertanyaan standar banget ya? Hahaha!)

Mbak Dira : “Haydi, niki Tante Esti, rencange Budhe Tira”. (Haydi, ini Tante Esti, temannya Budhe Tira)
Haydi :”Nek rencange De Tir, Haydi ngundange nggih Budhe Esti”. (kalau temannya Budhe Tira, Haydi memanggilnya ya Budhe Esti)

Aduh, langsung berasa tua nih dipanggil Budhe T.T

Mbak Dira : “Nggih mboten to, Tante Esti kan luwih enem katimbang Ibu”. (Ya enggak, Tante Esti kan lebih muda dari Ibu)

Akan tetapi, tetap dong si Haydi memanggil saya dengan sebutan Budhe Esti. Hahaha! Ini nih alasannya,

Haydi : “Nggih mboten, Budhe Esti kan mpun kromo, dadose nggih Haydi ngundange nggih Budhe”. (Ya enggak, Budhe Esti kan sudah menikah, jadinya ya Haydi manggilnya Budhe)

Pasti si Haydi melihat foto saya dan Mas Budhi yang memang dipajang di ruang tamu. Jadi, Haydi tetap memanggil saya dengan sebutan Budhe Esti. Hahaha!  
                             
Pembicaraan selanjutnya berlangsung cukup lancar, yah cukup membuat si Budhe Esti ini harus berpikir keras sebelum bicara. Berasa di tes deh. Hahaha!

Tiba-tiba si Haydi nyeletuk, “Budhe Esti mpun gadah putro pinten?” (Budhe Esti sudah punya anak berapa?)

Hadeeeh..pusing nih mau menerangkannya dengan anak kecil dan pakai bahasa Jawa halus lagi.

Setelah sempet diam, sambil mikir tentunya, saya pun menjawab, “Budhe Esti dereng gadah putro, Haydi. Dereng diparingi Gusti Allah. Nyuwun dongane nggih, ben Budhe Esti ndang diparingi putro”. (Budhe Esti belum punya anak, belum dikasi sama Allah. Minta doanya ya, supaya Budhe Esti segera diberi momongan). Tuh kan, bahasa Jawanya udah belepotan pakai bahasa Jawa ngoko (bahasa sehari-hari atau bahasa kasar). Haha! Gak bakat jadi priyayi.

Dan jawaban Haydi sangat mengagetkan, “Nggih Budhe Esti, mengkih Haydi nggih dongake supoyo Budhe Esti diparingi putro kalih Gusti Allah”. (Ya Budhe Esti, nanti Haydi mendoakan Budhe supaya diberi momongan sama Allah). Duh Gusti, meleleh hati saya, anak sekecil ini mengatakan kata-kata yang menyejukkan seperti itu.

-----000-----

Pertemuan pertama saya dengan Haydi, saya ceritakan ke suami. Wah, suami penasaran banget dong ya. Dan tidak perlu menunggu lama, beberapa hari kemudian, Haydi datang ke rumah lagi bersama Bapak dan Ibunya.

Mas Budhi sempat bertanya dengan orang tua Haydi, mengapa Haydi sudah diajari bahasa Jawa halus sejak kecil. Alasan mereka, kalau nanti Haydi sudah bersekolah otomatis dia akan diajari bahasa Indonesia di sekolah dan akan belajar bahasa Jawa sehari-hari dari teman-teman seumurannya. Jadi, kesempatan mereka mengajarkan bahasa Jawa halus ya sejak Haydi masih kecil. Dan kalau toh mereka mengajarkan bahasa Indonesia ke Haydi, mereka harus mengajarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan mereka tidak begitu percaya diri bisa mengajarkan bahasa Indonesia dengan baik sesuai EYD.

Wow, pemikiran yang luar biasa ya. Sampai begitu detailnya mereka memikirkan bahasa apa yang hendak mereka perkenalkan terhadap putra mereka.

Haydi dan orang tuanya

Ada kejadian lucu ketika Haydi sekeluarga bertandang ke rumah. Waktu itu saya asyik ngrumpi berdiskusi dengan Mbak Dira, sedangkan bapak Haydi membicarakan otomotif dengan Mas Budhi. Haydi pun merasa agak tersisih dan dia agak caper (cari perhatian) gitu.

Budhe Esti, Haydi nyuwun mimik atis!” (Budhe Esti, Haydi minta air dingin)

Dan permintaan itu dilanjutkan permintaan-permintaan lainnya kalau dia merasa dicuekin. Haha! Puncaknya,mungkin karena sangking jengkelnya dicuekin, Haydi mengatakan hal tak terduga. “Bapak niku ngajari Haydi nek ngendika kalih liyane ngangge boso Jawi, sak niki kok Bapak ngendika kalih Pakdhe Budhi ngagem boso Indonesia?” (Bapak mengajari haydi untuk bicara memakai bahasa Jawa kalau bicara dengan orang, kok sekarang Bapak bicara dengan Pakdhe Budhi memakai bahasa Indonesia).

Kata-kata itu cetar membahana badai banget. Dan terpampang nyata empat orang dewasa di ruangan itu langsung mak plenggong (terdiam plus mlongo). Antara geli dan kasihan sama bapaknya Haydi, kami pun cuma diam dan pura-pura tidak mendengar. Untung saja Mbak Dira bisa mengalihkan perhatian Haydi, jadi keheningan itu pun pecah.

Walau pun sempat melihat anaknya protes seperti itu kepada si Bapak, saya tetap salut dengan Mas Hayat dan Mbak Dira yang dengan konsisten bisa mengajarkan putra mereka untuk berbahasa Jawa halus dengan baik dan benar. Dan tentu saja, salut juga dengan Haydi, semuda itu sudah pinter bahasa Jawa halus, padahal Budhe Esti masih plegak-pleguk kalau diajak pakai bahasa Jawa halus. Kalau pakai bahasa Jawa sehari-hari sih, pinter pakai banget *bangga tidak pada tempatnya. Qiqiqi!

-----000-----

Bahasa menunjukkan bangsa, kalau bukan kita yang melestarikan bahasa daerah masing-masing, terus siapa lagi? Memakai bahasa daerah bukan berarti mengurangi nasionalisme atau bisa jadi membuat chauvinisme (rasa ke-suku-an) semakin tebal. Kalau kita bisa menempatkan kapan dan di mana kita memakai bahasa daerah, tentu saja itu tidak terjadi permasalahan, justru semakin menegaskan betapa kaya kebudayaan di negara tercinta ini.


"Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway"



67 comments:

  1. Bahkan dari anak kecil pun kita banyak belajar ya Mbak..:)

    Kadang pembicaraan anak kecil selalu tak terduga
    salut buat orangtuanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, banyak hal mengejutkan dari anak-anak

      Makasi udah mampir Mas :)

      Delete
  2. Sugeng dalu Budhe Esti...
    Semarang jawah nopo mboten?
    Salam kagem Pak Budi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sugeng enjing Pak Mars
      Semarang mboten jawah sak niki
      Salam kagem Bu Mars nggih :)

      Delete
  3. Andai byk orang tua di Jawa sana spt ortunya Haydi ya mbak :)

    Semoga menang GA nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak El, saya juga jadi mikir nih, mau ngajarin anak saya pakai bahasa apa kelak :)
      Makasi Mbak Ely

      Delete
  4. Pinter dan kritis memang ya mas Haydi itu. Smg masih byk Haydi2 yang lain spy bahasa daerah bs lekat dgn keseharian kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bun, Mas Haydi juga orang Jogja lo
      Semoga ya Bun :)

      Delete
  5. Namanya diambil dari singkatan nama kedua orang tuanya,,,,
    wah jadi punya arti, niche blog :)

    ReplyDelete
  6. Sip markusip ni mbak, pengin juga buat postingan anyar, tapi saat ini pas ujan deres plus petir menyambar-nyambar. Waduuuuh. At least, smoga sukses GAnya, kalo dpet buku tapi bosan paketin saja ke rumahku ya,mbak :)

    ReplyDelete
  7. Anak kami pun mengambil dari kumpulan nama orang2 yg andil dalam proses kelahiran, Nadya = (bidan) Widya sama (bidan) Diana *Haydi juga nama yg keren :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nama anaknya cantik2 Mbak
      Makasi udah mampir :)

      Delete
  8. namun ada juga beberapa daerah yg penganutnya malu menggunakan bahasa emaknya bu... seperti di tempat saya ini. mereka bangga kalau sudah bisa ber 'elo-gue' an ama temennya. apalagi ama bapaknya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya? Mungkin mereka merasa dg berbahasa daerah jadi keliatan kampungan ya..
      duh sayang bgt :)

      Delete
  9. Haydi pinter banget bahasa jawanya Mbak..
    mbayangin Haydi ngomong aja lucu, suaranya pasti kedengar polos :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pinter banget, dan suaranya emang ngegemesin :)

      Delete
  10. wah, masih TK jago bahasa kromo ^^
    keren deh haydi..

    ReplyDelete
  11. Katanya beragam bahasa yang di kuasai semakain menambah sisi intelektualitas ya? lumayan tuh bisa bahasa indonesia, jawa ngoko, sama kromo . ditambah semakin lebih dewasa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Denger2 sih gitu Mas :)
      Sekarang Haydi udah belajar bahasa Inggris lo :)

      Delete
  12. Bagus ya dari kecil diajarin bahasa daerah yang halus, salut deh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, bagus banget dan keren ya :)

      Delete
  13. dapat kosa kata baru lagi nih aku hasil blogwalking ke para peserta aku cinta bahasa daerah: Plenggong. xixixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha asik kan ya dapat kosakata yg lucu2 :)

      Delete
  14. walah bahasa jawa memang susah ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sudah biasa ya gampang Mbak, tapi kalau jarang ngomong ya belibet bibirnya hehe

      Delete
  15. Sugeng sonten Jeng Esti, tuladha adi saking brayat Pak Hayat, Mas Haydi wasis wicanten basa krama inggil wiwit alit mila. Sugeng nyengkuyung GA nguri-uri basa daerah. Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sugeng dalu Bu Prih
      Gubrak, Bu Prih bahasanya halus bener, saya bingung nih mau jawab apa T.T

      Delete
  16. wah saluuuttttt...
    diajari bahasa krama di rumahnya.

    gudlak buat GA nya ya mbak :-)

    ReplyDelete
  17. Haydi pinternya... dan mukanya itu lucu kayak artis cilik siapaaa gt :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang pinter dan lucu Mbak
      Eh kayak siapa ya?

      Delete
  18. hehehe.. pinter banget ya tuh bocah :D saya yakin sedikit sekali orang yang bisa basa daerah yang aslinya atao yang haslus.. saya aja yang sunda gak gitu ngerti sunda yang alus gimana wkwkw..

    ReplyDelete
  19. salut, bilih tasih wonten tiyang sepuh ingkang purun mudal piwulang bebasan kromo inggil kagem putra putrinipun, lha wong kulo mawon menawi wonten ingkang ngendika kaleh basa alus mpun kepunthal2 e mbak

    ReplyDelete
  20. Waduh mbak, saya bukan orang Jawa tapi membayangkan berhadapan dengan anak yang menguasai bahasa Jawa halus begini, pasti deh otak rasa diplintir2 :D

    SUkses GAnya ya :)

    ReplyDelete
  21. Bahasa menunjukan bangsa, dan juga menunjukan asal-usul kita Mbak Hesti...Tidak hanya dalam arti sempit tapi juga dalam arti luas..:)

    ReplyDelete
  22. wow, keren banget yaa
    saya saja gak bisa tuh pake kromo inggil gitu

    ReplyDelete
  23. kalo punya anak, mau juga deh nanti ngajarin bahasa daerah
    biar anakku kayak haydi

    ReplyDelete
  24. Salut banget sama haydi, yen niar sing disuruh kromo alus yoo ora isok mbak :D

    Makasih yaa mbak udah ikutan, dicatet PESERTA :D

    ReplyDelete
  25. Pripun kabaripun BUdhe Esti...
    Pripun njih lami mboten kepanggih ngiih...

    ReplyDelete
  26. lucu (^_^) cuby cuby gimana gitu

    ReplyDelete
  27. Aaaahh...Haydi pinteeeeer. Aku pgn tjium tjium deh, lucu :D

    ReplyDelete
  28. Haydi pinter dan lucu ya ... salut deh ...

    ReplyDelete
  29. saya merasa malu mbak Esti, gimana seorang bocah TK sudah pinter berkromo inggil, sedangkan saya ini sudah segede gini masih kagok kalau pake boso jowo kromo inggil...padahal ngaku orang jawa tulen....haduh..

    ReplyDelete
  30. bner bnget. budayakan bahasa daerah, adalah salah satu cara agar budaya kita tidak pudar oleh waktu...

    ReplyDelete
  31. Waaah...
    keren sekali Haydi iniiiiiih...
    *mana ganteng pulak*...

    Jadi malu sendiri, secara diriku ini ngomong basa Sunda nya masih belepotan, boro boro ngajarin Kayla ama Fathir...hiks...

    ReplyDelete
  32. Bagus banget bahasa si Hayadi..pinter nak.
    jangan lupa bahasa daerah ya
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  33. wah, bhasa kulo blepotan... koyone aku tresno karo haydi :D

    ReplyDelete
  34. haha.. Haydi engkau mengoyak hati ini...

    ReplyDelete
  35. Tanpa bermaksud untuk berlebihan ...
    tetapi ... jujur saya harus akui ... saya sangat pujikan upaya dari bapak dan ibu Haydi ini ...

    Bahasa kromo inggil ... diperkenalkan sejak TK kecil ...

    salam saya Bu Budhi

    ReplyDelete
  36. keren banget haydi ya.. isha aja yang turunan jawa ga bisa ngomong jawa.. -.-

    ReplyDelete
  37. Bahasa Jawa halus begitu kan rada susah ya mba :)
    keren deh si Haydi

    ReplyDelete
  38. Ah hati ini mencelos bacanya...
    Tutur katanya halus... doanya pun manisss....

    ReplyDelete
  39. Wahh... hebat banget ya, masih TK bhs jawanya sdh bagus. sepertinya anaknya pintar ya.....
    Salam kenal....... :)

    ReplyDelete
  40. waw keren...
    jarang banget anak sekarang yang bisa bahasa daerah alus gitu
    aku di rumah maksain anak-anak pake bahasa jawa juga susahnya minta ampun. lingkungan yang kurang mendukung. sepertinya orang sekarang lebih suka ngomong dengan anak kecil pake bahasa indonesia. lebih payahnya lagi, orang tua sekarang sepertinya lebih bangga kalo anaknya pinter bahasa asing...
    hiks...

    ReplyDelete
  41. Melestarikan bahasa daerah [Jawa], yg paling efekif mmg dr rumah, dimulai dari orang tuanya. SAyangnya sekarang kebanyakan ortu skrg bnyk yg membiasakan penggunaan bahasa sehari-hari dengan bahasa Indonesia seakan Bahasa daerah dianggap gak gaul.


    #Pripun wartanipun Mbak? Amugi tansah pinaringan keberkahan

    ReplyDelete
  42. Wah,, iri banget sama haydi.. Lah kulo niki, pun gedhe tuwo kok mboten saged ngginakakken basa jawi ingkang leres (dikoreksi ya budhe Esti :D ) .. suami saya jg nggak bisa basa Jawa, ngobrol dirumah pake B.Indonesia (logat jakarta, maklum suami nongolnya dari Jakarta :D ) ,, wah mau private sama De' Haydi,,

    ReplyDelete
  43. Oalah... Wong jowo to Mbak? Sami karo aku wong jowo juga, cuma jowo pontianak alias japon. Hehehhee... Kunjungan silaturahim... :-)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar ^_^