Social Icons

27 Sept 2012

Cerita Tentang Sebuah Nama

Salah satu kewajiban orang tua adalah memberi nama yang baik untuk putra-putri mereka, bukan? Karena nama bisa dikatakan merupakan doa untuk si anak. Begitu pula dengan orang tua saya. Mereka memberi nama kepada saya, anak perempuan pertama mereka, Kurnia Esti Hapsari. Nama yang sangat Jawa menurut Bapak. Karena berakhiran huruf "i". Pengennya Bapak sih jangan terlalu Jawa, tapi apa mau dikata Ibu bersikeras. Ini nih alasannya:

Esti Kecil : "Ibu, yang dulu kasih namaku siapa?"
Ibu          : "Ya Ibu dong?"
Esti Kecil : "Gak bareng sama Bapak, Bu?" 
Ibu          : " Gak."
Esti Kecil : "La kenapa?"
Ibu          : "Nanti kamu dikasi nama pacarnya Bapak dulu/"
Esti Kecil : ....????

Hahahaha.....

Untuk arti kata Kurnia dan Hapsari tentu sudah banyak yang tahu. Kurnia untuk karunia dan Hapsari berarti bidadari dalam bahasa Jawa. Bagaimana dengan Esti? Waktu kita pindah ke Jawa ada teman yang tanya, "Kok namamu Esti, kan artinya Gajah?" Weladalah, apa iya toh. Waktu saya liat di primbon Jawa, yang artinya Gajah itu Hesti. Padahal nama saya kan Esti? Apa sama ya maksudnya. 

Langsung tanya ke Bapak Ibu, kata Ibu, Esti artinya "hati yang baik" sedangkan Bapak bilang Esti diambil dari kata "estu" yang artinya benar/bersungguh-sungguh. Yah, menurut mereka itu arti yang baik. Dan menurut saya juga. Ketika saya search ternyata Esti bisa juga berarti mempunyai cita-cita. Bagus juga arti nama saya *PeDe

Oh ya dulu sempet sakit waktu masih kecil, menurut orang Jawa kabotan jeneng (keberatan nama), jadi diganti jadi Tanti Murniati. Tapi di akte sudah tertulis nama awal, jadi nama resmi tetep yang itu. Hingga sekarang banyak saudara yang masih memanggil saya Tanti, sebanding deh dengan yang panggil Esti. Bahkan ada beberapa teman yang suka manggil nama Kurnia atau Hapsari. Alasan mereka, "Mantanku dulu namanya itu, Es" Aduh gak banget deh.

Saya sempat merasa kurang nyaman dengan nama saya, karena menurut saya terlalu panjang. Jadi seringnya saya singkat Kurnia Esti .H. atau K. Esti Hapsari. Nah, waktu sudah agak rajin nge-blog, saya sempet mikir pake nama apa, yang ear catching gitu. Karena nama suami belakangnya Sulistyawan (dan artinya pun "orang yang baik dan bagus") ya saya ambil saja nama panggilan saya dan nama belakang suami sebagai nama di blog. Esti Sulistyawan. Kayaknya cocok juga dijadiin nama pena hehehe


pinjem foto editannya ya Dhe?
Sejak jadi model kuis tebak nama di Blogcamp, banyak sahabat blogger yang bertandang ke rumah sederhana saya ini. Banyak yang menjawab benar tapi tidak sedikit yang menjawab dengan Esti Sulistyawan. Nama asli memang saya sematkan di facebook. Agak berbeda dengan kebanyakan orang ya? Karena menurut saya social media itu kan salah satu kegunaannya untuk mencari teman lama, la teman saya yang dulu-dulu kan taunya nama asli saya. Nyatanya di burung biru saya pakai nama Esti Sulistyawan gak ada teman lama yang ngeh *lagipula jarang pake itu juga sih ^_^

Kalo boleh tahu apa sih arti nama teman-teman?

*Terima kasih untuk Pakdhe Cholik karena sudah berkenan menjadikan saya model Blogcamp di akhir September, kenapa ya Dhe, saya merasa ada "sesuatu' gitu dengan terpilihnya saya hehe. ah tapi apa pun itu adalah "sesuatu" yang positif. Terima kasih sudah ngemong blogger pemula dari Semarang ini ^_*

14 Sept 2012

Wanita Aceh Itu

Tidak ada yang kebetulan dalam hidup

Beberapa tahun yang lalu, saya sedang patah hati untuk yang kesekian kali *sok laku. Ketika itu lagi hangat-hangatnya dapat pertanyaan, "Kapan nikah? Pacarnya orang mana?" dan lain sebagainya. Yah, karena untuk urusan pribadi saya agak tertutup dengan orang lain, jadi banyak yang penasaran saat itu saya sedang "jalan" sama siapa *sok ngartis hehe. Jadi teman-teman pun tidak ada yang tahu kalau saya lagi patah hati.

Stres banget gak sich, hubungan yang sudah berjalan 1,5 tahun sedang diujung tanduk, padahal saat itu usia sudah cukup, sudah punya pekerjaan, dan dapat pertanyaan yang nyebelin itu pula. Intinya kecewa berat, apalagi putusnya dengan cara gak enak banget dan masih ada 'rasa' pulak. Alamak. *lirik suami.

Tidak dinyana, tidak diduga, saya mendapat tugas dari kantor untuk mengikuti pelatihan di Jakarta. Awalnya malas banget mau berangkat. Namanya juga lagi patah hati, bawaannya males dan suram *apa seh ini. Gak enak deh mau ngapa-ngapain. Sebagai karyawan yang baik (uhuk) saya pun berangkat ke Jakarta, berdua dengan teman. Pikir saya sih, "Ah, mungkin malah bisa refreshing sampai sana, lagipula kan di Jakarta bisa jalan-jalan, lumayan lihat hal-hal baru".

Setelah sampai di tempat diklat, dan sudah membereskan beberapa administrasi, kami beristirahat di kamar yang disediakan oleh panitia. Kemudian keesokan harinya kita mengikuti upacara pembukaan diklat dulu, ternyata saya dipilih sebagai wakil peserta untuk mendapat tanda peserta pertama kali. Gak senang sich, habis harus duduk di bangku depan sendiri dan gak bisa ngantuk bwahahaha.

Setelah pembukaan, ada coffee break *padahal minumnya teh hehe, kesempatan untuk berkenalan dengan peserta lain, lumayan dapat beberapa kenalan di hari pertama. 

Singkat cerita, kita sudah duduk dengan manis *tangan dilipat* pada sesi pertama di hari pertama, sambil nunggu instrukturnya datang, ngobrol ngalor-ngidul dengan peserta-peserta yang lain, sambil sok kenal sok dekat tentu saja. 

Langit pun masih biru, walau hati tertutup awan kelabu
keep moving forward guys :)
Di sebelahku duduk Mbak Nana dari Jawa Timur, kita sudah sempat kenalan sebelumnya, jadi ngobrolnya lebih mengalir, sedangkan di belakang kami ada dua orang Ibu berasal dari Aceh. Kita ngobrol yang enteng-enteng saja. Hingga sampai pada percakapan ini:


Saya : "Wah tadi malam agak dingin ya Bu, saya biasa pakai selimut kalau tidur, jadi tadi pagi minta dipinjami selimut sama petugas asramanya",

(Salah satu Ibu dari Aceh, sebut saja namanya Bu Cut menimpali)

Bu Cut : "Mbak sama seperti anak bungsu saya, kalau tidur harus pakai selimut. Bahkan kadang selimutnya sampai diikat segala lo ke kakinya biar gak lepas."

Saya : (tertawa pelan) "Oo gitu ya Bu, lucu juga ya, anaknya ada berapa Bu?"

Bu Cut : "Ada 6 Mbak. Tapi sekarang tinggal 3".

Saya : "Lo yang 3 lagi kemana Bu?" tanyaku dengan suara polos.

Bu Cut : "Waktu tsunami datang anak saya yang tiga orang hilang Mbak, yah anak kan titipan Allah ya Mbak, jadi...."

Kalimat beliau setelahnya tidak sampai ke telingaku, karena rasanya kuping tiba-tiba tuli. Mata terasa hangat dan lidah terasa kelu. Ibu di depanku itu terlihat sangat tegar ketika menceritakan itu semua. Kami yang mendengarkan tidak bisa mengatakan apa-apa. Berusaha sebisa mungkin agar air mata tidak jatuh, bahkan kulihat sekilas Mbak Nana sampai berkaca-kaca matanya.

Untung saja instrukturnya datang, sehingga percakapan terputus dan kami bersiap mengikuti sesi, Sempat kutangkap Mbak Nana berbisik padaku, "Aku punya satu anak, Es. Ketika anakku sakit panas saja,aku kalut luar biasa..." Mbak Nana pun tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

Dan ketika instruktur mulai menerangkan materi, kepalaku terasa penuh. 

Ya, saat itu saya merasa menjadi orang yang paling malang sedunia. Patah hati berjuta rasanya. Tetapi setelah mendengar cerita Bu Cut, tubuhku serasa bergetar. Masih banyak nikmat yang bisa disyukuri, keluarga yang utuh, bapak ibu dan adik-adik sehat, pekerjaan yang baik, sahabat dan teman yang selalu ada bila dibutuhkan. Bahkan udara yang dihirup pun bisa dianggap sebuah nikmat yang luar biasa. Mengapa harus terpatok pada satu masalah. 

Kalau toh memang bukan si "Dia" yang ditakdirkan bersamaku, memang itu yang terbaik menurut Allah Swt, berarti kan ada pria lain yang terbaik untuk ku yang entah saat itu sedang dimana. Jadi mengapa harus risau hanya untuk seorang pria yang bahkan tidak bisa menghargai perasaanku. Ah, tidak ada gunanya bukan? Lebih baik melanjutkan hidup dengan hati senang, menikmati hidup dengan melakukan hal-hal yang lebih baik, lebih berarti.

Sejak saat itu saya tidak lagi bermuram durja, sedih masih, tetapi dengan pikiran positif setiap masalah ada pemecahannya dan setiap hal ada waktunya, saya bisa meneruskan hidup dengan lebih baik. Teruslah berpikiran positif terhadap Allah Swt, karena ketetapan-Nya yang terbaik. 

Saya pun punya kata-kata baru yang saya selipkan di setiap do'a:

Aku tahu Ya Allah
Segala sesuatu ada saatnya
Semua sudah atas kehendak-Mu
Yang kupinta dari-Mu
Bantulah aku Ya Allah
Agar dapat bersabar hingga saat itu tiba

Terima kasih Allah, Engkau telah mengingatkanku melalui Bu Cut. Terima kasih pula kepada Bu Cut yang telah berbagi cerita. semoga kebahagiaan melimpah kepadamu, Bu. Aamiin.

Saya bersanding dengan suami tiga tahun setelah diklat tersebut. Waktu yang cukup lama untuk ukuran saya, tapi itulah yang terbaik. Karena saya mendapatkan pria yang terbaik pula *muji suami sendiri hehe

Tidak ada yang kebetulan dalam hidup menurut saya, karena semua terjadi atas kehendak-Nya. Dan bolehkan saya berpikir itu adalah cara Allah untuk mengingatkan saya?

Semoga harimu menyenangkan kawans ^_*


Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando's First Giveaway

*Saya pun menjalani diklat dengan hati gembira, mempunyai banyak teman dan ilmu yang baru. Kenapa tiba-tiba teringat penggalan puisinya bang Chairil yang, "bila sudah waktuku, aku tak mau..." wah malah ngelantur kemana-mana hehe

Keep Moving Forward