![]() |
| Salah satu penari dalam tarian Gambang Semarang |
"Harus sesuatu yang unik dan menghibur", kataku pada Mas dan orang tua saat mempersiapkan pernikahanku 2,5 tahun yang lalu. "Ya udah kamu cari sendiri dulu sana", ibu menimpali.
Saat itu cuma mikir, kalau band-band gitu kan udah biasa banget.. Kira-kira apa ya yang unik, menghibur dan tak akan terlupakan oleh para tetamu, pikirku ketika itu. Pusing deh mikirnya.
Beberapa hari kemudian waktu kumpul-kumpul di kampus pasca sarjana karena ada kuliah khusus, tidak sengaja aku bertanya ke Bu Arida (salah satu teman) tentang Pak Siswo (teman juga hehe), "Kok Pak Sis gak keliatan Bu? Apa gak tahu kalau ada kuliah hari ini?"
Bu Arida menjawab, "Sepertinya lagi latihan, ada orang yang punya gawe."
"Latihan apa Bu?" tanyaku lagi.
"Gambang Semarang, Siswo kan salah satu pelatihnya," jawab Bu Arida.
Wah, bisa nih, pikirku setelah mendengar itu. Sudah pernah dengar sih tentang Gambang Semarang, tetapi tidak tahu kalau bisa manggung di pernikahan.
Malamnya, aku menelpon Pak Sis menanyakan tentang hal tersebut. Setelah ngobrol tentang Gambang Semarang, sampailah kita pada pokok pembicaraannya, sudah pasti tentang harga dunk hehehe.
Dengan malu-malu tapi mau aku bertanya, "Kalau manggung di resepsi gitu berapa Pak?"
"Kalau dalam kota (Semarang) .......juta rupiah, kalau luar kota ........rupiah," kata Pak Siswo
"Kok mahal pak?" protesku, yah namanya mau jadi emak-emak kan harus irit hemat.
"Hei sekarang hitung deh, kalau pakai band gitu bayar berapa, kalau gambang ada 15an orang lo, kan ada penarinya segala," jelas Pak Sis dengan sabar.
Setelah berhitung (calon emak harus pinter ngitung yee) benar juga. Kalau band gitu paling pol orang 7, padahal biayanya cuma selisih sedikit.
Pak Sis bertanya dari ujung sana, "Emang siapa yang mau nikah, Es?"
"Saya, Pak," jawabku.
"Ooo...kalau kamu nanti saya kasih diskon deh."
Hore hore dapat diskon, siapa sih yang gak seneng dapat diskon hihihi.... Akhirnya setelah dapat diskon perbincangan dengan orang tua dan calon suami, semua sepakat untuk menampilkan Gambang Semarang di pernikahan.
![]() |
| Para penabuh, keren kan masih mahasiswa lo |
Dua minggu sebelum hari H, adik-adik dari Kesenian Jawa Universitas Diponegoro datang ke rumah untuk membahas tentang penampilan mereka di resepsi nanti.
"Nanti tariannya dikeluarkan jam berapa mbak? Kan ada dua tarian, tari Gambang Semarang dan tari Goyang Semarang," Frida si Ketua UKM-KJ Undip bertanya.
"Karena acara dimulai jam 11 siang, tarian pertama dikeluarkan jam setengah dua belas aja dik, sedangkan tarian kedua, jam 12.15. Jam-jam segitu kan tamu lagi banyak-banyaknya, jadi sambil nunggu salaman dengan pengantin, mereka tidak bosan, karena nonton tari-tarian. Bagaimana menurut kalian," penjelasan panjang kali lebar dari si calon pengantin perfeksionis (cuma pas mau nikah aja yang jadi perfeksionisnya hehehe).
"Oh iya mbak, gitu juga bagus. Nanti kan kami menyanyikan 10 lagu. Lima lagu dari kami, khas Gambang nah yang lima lagu mbak bisa request."
"Oh gitu ya, lima lagunya menyusul ya, sapa tahu ibu, bapak dan adik-adik ada yang pengen request lagu," ujarku.
Singkat kata singkat cerita, tibalah hari bahagia itu. dan sesuai dugaanku, para tamu menonton dengan antusias baik ketika penabuh dan penyanyi mulai berdendang, mau pun ketika para penari muncul, wuiiih...banyak yang bergerombol menonton di depan penari (sambil bawa mangkuk bakso hihihi..). Apalagi anak-anak, wah suka banget mereka melihat penabuhnya. Kalau yang masih remaja suka tuh sama yang nyanyi, ganteng sih wkwkwk.
Yang mengejutkan, ada pembawa acaranya (MC) segala loh. Diwawancarai segala, serasa jadi artiiiisss.....hihihi. Pementasan Gambang Semarang di resepsi kami bisa dikatakan sangat sukses. Kami puas, tamu senang dan adik-adik dari Kesenian Jawa juga happy (dapat honor sekaligus sekalian makan gratis kata mereka hehehe mahasiswa getooh)
Yang lucu ada teman suami yang agak gelo (menyesal), karena sebenarnya ia mau menyumbangkan lagu di pernikahan kami, tapi setelah melihat jenis hiburannya, gak mungkin kan ia nyanyi semau gue.Ya maaf.
Melestarikan budaya bukan hanya tugas dari pemerintah. Kita juga wajib menghargai dan melestarikannya bukan? Jangan sampai budaya kita diklaim oleh negara-negara lain yang tidak bertanggungjawab.
So, Bagaimana menurutmu temans?
![]() |
| Raja dan Ratu sehari, bersama dengan Gambang-ers |
Artikel ini diikutsertakan dalam Jambore On the Blog 2012 Edisi Khusus bertajuk Lestarikan Budaya Indonesia.
NB: Tentang sejarah Gambang Semarang bisa dibaca disini.



