12 Jun 2017

Ngomong Boso Jowo. Angel Pol!

Tema tentang masa kecil ini dicetuskan oleh mbak Nia dan Mbak Anjar. Kalau ngomongin masa kecil gak ada habisnya ya. Terlalu banyak yang pengalaman dari yang unyu hingga munyuk alias memang unyuk haha. Kali ini saya ingin menceritakan tentang pengalaman pindah.


Pernah pindah beda provinsi ketika masih kecil, temans? Jadi anak pindahan itu gak enak lo, penyesuaiannya butuh waktu cukup lama, tapi kalau diinget sekarang, seru banget jaman itu ya haha. Saat lulus sekolah dasar, tetiba orang tua mengajak ke tanah Jawa. Dan ternyata kami boyongan saudara-saudara. Iya, pindahan. Apa yang ada dalam pikiran anak usia 12 tahun ketika itu? “Duh, aq belum ketemu teman-teman, mereka tau gak ya aq dimana, atau gimana cara kontak sama mereka lagi”.Iya, dulu orang punya telpon rumah saja sudah mewah banget. Plis, ya, jangan tanya tahun berapa wkwk

Seperti ngimpi rasanya, tiba-tiba kami sudah mendarat saja di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Masih bingung dengan kondisi saat itu, mobil yang kami tumpangi menuju ke daerah Boyolali. Iya, dari kota Pontianak, kalimantan Barat saya sekeluarga pindah ke Boyolali. Semua tampak berbeda, mulai dari cuaca sampai orangnya. Cuaca di Boyolali cenderung dingin, ini nih yang buat kita sering masuk angin. Dan orang-orangnya cenderung seragam, hampir semua dari suku Jawa, sedangkan di Pontianak, semua suku tumplek blek.


Dari semua perbedaan, yang paling membuat saya tertekan adalah perbedaan bahasa. Hiks ini serius loh. Saya yang biasa berbahasa Indonesia campur Bahasa Melayu, mulai belajar bahasa Jawa dari nol, dari nol ya, NOL. Bingung banget awalnya waktu denger orang pada ngomong Jawa. Di situ saya mulai khawatir, bagaimana kalau di sekolah? Alhamdulillah saya di terima di SMP N 1 Boyolali. Suasana di sekolah tidak seperti bayangan saya, teman-teman cukup kooperatif dengan memakai bahasa Indonesia kalau di kelas.

Saya masih ingat banget, waktu laporan sama Ibu Guru kalau saya tidak membawa topi seragam. Si Ibu menjawab, “Sana matur sama Pak Pur!” Welahdalah, matur itu maksudnya gimana? “Emang disuruh ngapain ya sama Bu Guru tadi?’ Hahaha ketawa sendiri kalau inget itu. Yang paling mengenaskan itu kalau pelajaran bahasa Jawa, Ya Allah gak ada satu pun yang ngerti cobak haha. Pernah ulangan dapat 3 aja senengnya gak karuan haha. Mana lagi disuruh ngapalin hanacaraka, duh ya, adik lelah bang. Pasrah aja kalau sudah urusan bahasa Jawa, Alhamdulillahnya, para guru paham, jadilah nilai raport bahasa Jawa masih berwujud angka 6. Tapi ya karena angka 6 itu jadi gak bisa daftar ke SMA impian hiks.

Yang tak kalah lucu itu interaksi saya dengan teman-teman. Seperti yang sudah saya sampaikan, bahwa bahasa yang saya pakai itu bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Dan kecepatan bicara pun speednya 3x dari cara bicara teman-teman yang memang tutur katanya halus tapi juga agak lambat cara bicaranya, Yah, putri Solo, jadi maklum ya. Pernah suatu kali saya sedang asyik bercerita, tiba-tiba lawan bicara saya berkata, “Eh, pelan-pelan ngomongnya!” Haha

Lama-kelamaan bisa sih bahasa Jawa, Paling cepat memang bahasa pergaulan alias bahasa ngoko, tapi ini bahasa kasar ya, kalau sama orang tua gak boleh dipakai. Karena kalau dipakai untuk bicara sama orang yang lebih tua bisa di cap anak gak punya sopan santun. Amannya ya bicara pakai bahasa Indonesia. Walau kadang orang yang lebih tua pakai bahasa Jawa alus yang bikin pengen garuk-garuk tembok. Yah, akika kan gak ngerti artinya, gak tahu pulak kudu jawab apa hiks.

Dari pengalaman itu, saya jadi tahu betapa gak enaknya jadi orang yang tersisih, Dulu waktu di kampus, seringnya ngobrol pakai bahasa Jawa dan teman-teman dari luar Jawa, seringnya bilang, “Ih, pakai bahasa Indonesia dong!” Haha Lalu percakapan switch jadi bahasa Indonesia. 

Jadi semakin menghargai bahasa Indonesia deh ini, benar-benar pemersatu kebhinekaan bahasa di Indonesia.

9 comments:

  1. Wkwkwkwk ... Pengalaman yang dialami anakku sekarang😂😂

    ReplyDelete
  2. Hehehe... lucu dan seru yah!
    Semangat semangaattt !!

    ReplyDelete
  3. Mohon maaf lahir batin mbak, maaf baru busa BW ini :)

    Pengalaman yang sangat lucu sekaligus berkesan ya mbak Esti. Alhamdulillah lama-lama bisa juga bahasa Jawa meski hanya yang ngoko yaa..

    Jangankan mbak yang pindahan, lha wong anak saya aja sudah segede gini belum memguasai benar bahasa sendiri; seringnya malah pakai bahasa Indonesia. Dan waktu SD pelajaran yang bikin dia stress itu justru bahasa Jawa. Ini salah siapa coba? Hehe..

    ReplyDelete
  4. Mbak, pengalaman kita hampir sama, masa kecilku juga pindah-pindah. Dari jawa ke papua terus ke jawa lagi. Dilema pertama itu kendala bahasa, selain butuh penyesuaian untuk mendapatkan teman, ditambah ada pelajaran bahasa jawa yang susah banget menurutku, karena kebiasaan ngomong bahasa indonesia dengan logat papua. Sampai-sampai tiap ulangan bahasa jawa selalu jelek, dan g pernah bisa ngomong pake bahasa kromo inggil sama orang yang lebih tua. Tapi alhamdulillah sekarang udah bisa :D

    ReplyDelete
  5. Aku loh mbak orang jawa nggak ngerti bahasa jawa, malah lebih familiar bahasa dari ibuku bahasa banjar wkwk.. karena besar di Jawa Barat, tapi nggak juga ngerti bahasa sunda, malah ngerti bahasa Ambon krn lama di Ambon ikut suami, :D

    ReplyDelete
  6. Anak2ku termasuk contoh tragis. Eyangnya yg satu menulis 2 kamus bahasa Jawa & satunya empu kraton jaman dulu, tapi mrk blas nggak ngerti krn separuh masa pertumbuhan ada di Sumatra :)

    ReplyDelete
  7. yang asli jawa aja belum tentu bisa bahasa alus :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar ^_^