25 Jul 2013

Rasa Berdosa

Sudah beberapa kali Ramadhan saya lewatkan dengan intensitas bekerja yang luar biasa. Keluar kota dan menginap berhari-hari di hotel adalah menu rutin. Resikonya ya jelas, tidak bisa sahur dan berbuka dengan keluarga *sedihnya. Tidak terkecuali Ramadhan kali ini. Sejak hari pertama berpuasa, sederet kegiatan sudah dimulai. Waktu longgar hanya hari Minggu. 


Di salah satu kegiatan, dalam satu hotel yang ditugasi menjadi penanggung jawab dari kantor hanya dua orang, saya dan seorang teman. Kami dibantu oleh 3 orang lain yang baru kami kenal di hari pertama, mereka dari kantor yang berbeda-beda. Otomatis saya yang menjadi koordinator, karena dibanding teman sekantor saya lebih senior (baca: lebih tua wkwkwk).

Dan menjadi koordinator apalagi ketika kegiatan berada di luar kantor dengan teman-teman baru itu tidak mudah jendral. Kami harus mengajari apa saja yang harus mereka kerjakan. Dan jujur saja, saya agak kurang enak kalau harus menyuruh-nyuruh. Jadi, saya hanya meminta tolong pekerjaan rutin saja, seperti menunggui kelas dan mengurus kebutuhan peserta. 

Alhamdulillah, walau sempat kelabakan karena sistem baru yang diterapkan, kegiatan berjalan cukup lancar. Kegiatan berlangsung selama 5 hari. Dan hampir semua peserta berasal dari luar kota. 

Pada hari kedua, ada seorang peserta yang ingin meminta ijin pulang pada hari ketiga. Ibu itu sedang sakit dan harus kontrol rutin, beliau juga harus menghadiri pernikahan saudaranya di daerah Jawa Timur. Sebagai penanggung jawab, kami tidak melarang, tetapi kami memberitahukan kepada beliau resiko yang harus beliau hadapi jika pulang sebelum pelatihan belum berakhir. Resikonya antara lain tidak mendapat sertifikat. Dan kami serahkan sepenuhnya keputusan di tangan beliau. Dan beliau memutuskan untuk tetap mengikuti kegiatan hingga selesai. Huft, rasa berdosa mulai terasa.

Pada hari keempat, ada seorang ibu lagi yang meminta ijin untuk membesuk adiknya yang sedang sakit keras di Jogja. Beliau meminta keringanan karena semua tugas sudah ditunaikan. Jadi tidak ada masalah jika beliau pulang lebih awal. Lagi-lagi saya memberikan jawaban diplomatis agar ibu itu tidak pulang mendahului yang lain. Ibu itu mau menunggu hingga esok hari. Batin saya semakin tersiksa

Mungkin teman-teman ada yang bertanya, mengapa saya begitu tega. Jika saya mengijinkan satu orang pulang, maka kemungkinan yang lain pun akan meminta ijin pulang. Karena hal ini sering terjadi dalam kegiatan pelatihan. Karena itu kami memang agak ketat dalam peraturan. Jika kegiatan berlangsung di kantor, ada atasan yang langsung bisa memberi jawaban/solusi pada peserta yang bersangkutan. Tetapi karena ini di luar kantor, maka saya yang harus mengatakan jawabannya. Hufh, ternyata sulit sekali.

Saat sahur di hari kelima, seorang bapak menelpon dan meminta ijin untuk pulang agar bisa menghadiri pemakaman saudaranya yang akan dilakukan jam 8 pagi. Sedangkan penutupan kegiatan baru akan dilaksanakan pada siang hari di hari kelima. Lagi-lagi jawaban yang sama harus saya berikan. Setelah menutup telepon. Saya langsung menangis. Tidak kuat rasanya hati ini

Ibu yang sakit dan harus menghadiri pernikahan saudaranya, ibu yang saudaranya sakit keras, dan bapak yang tidak bisa melepas saudara untuk yang terakhir kali. Ya Allah, mengapa harus saya yang menjawab. Saya terisak dalam istighfar. Memohon maaf pada mereka bertiga (dalam hati) dan memohon ampun kepada Allah. Hidup adalah pilihan, dan jika saya bisa memohon, tolong saya ya Allah untuk tidak lagi berada dalam situasi seperti ini. Saya tidak bisa membayangkan, jika saya berada di posisi mereka.

Saya pun sedikit banyak bisa mengerti, betapa sulitnya menjadi seseorang yang harus memberi keputusan. Antara tugas dan kemanusiaan, sering bertentangan. Sedangkan kadang kita (termasuk saya) sering kali memprotes atas keputusan orang lain (pemimpin), padahal mereka (mungkin) sudah berusaha memberikan solusi terbaik.

Semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa saya. Aamiin.

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka Ramadhan Giveaway dipersembahkan oleh Zaira Al ameera, Thamrin City blok E7 No. 23 Jakarta Pusat


22 comments:

  1. Di Magelang dulu ada ketentuan: taruna diijinkan pulang jika orangtua meninggal. Jadi hanya orangtua saja. Kalau nenek/kakek,bulik/bude, nggak bisa pulang.

    Orang Indonesia memang suka begitu dengan berbagai alasan. So Panitia memang harus tebal muka namun bijak tanpa melanggar aturan.

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Tetap sabar & semangat . memang disetiap permasalahan selalu ada jalan keluarnya .

    ReplyDelete
  3. Merinding membayangkan apa yang njenengan rasakan Mba Esti, tapi memang harus dilakukan seperti itu sih. Kalau tidak bener kata njenengan, yang lain bakalan ikut dengan sejuta alasan baru.

    ReplyDelete
  4. Eh iya Ma, sukses ya kontesnya... :)

    ReplyDelete
  5. Aku memahami banget apa yang dirasakan mbak Esti.
    Memang berat untuk menerapkan aturan dan disiplin kepada peserta spt itu mbak.
    BTW gudlak ya utk kontesnya :)

    ReplyDelete
  6. tugas, tanggung jawab dan moral memang sering muncul saat menjalankan amanah tugas dari kantor...ketegasan memang perlu, namun kebijaksanaan juga seharusnya ada...sehingga peraturan itu bisa tetap berjalan dengan terhormat dan terasa tidak kaku serta peserta tidak merasa terpaksa mengikutinya.....selamat berlomba, semoga menjadi salah satu yang terbaik....salam :-)

    ReplyDelete
  7. Aturan emang harus di tegakkan tetapi jangan lupa toleransi kepada yang memang harus ditoleran,seumpama ibu yang alami yang beginian gimana perasaannya.

    ReplyDelete
  8. Jika saya mengijinkan satu orang pulang, maka kemungkinan yang lain pun akan meminta ijin pulang ...
    Ini betul banget Bu Budhi ...

    Kalau saya dari sisi Trainer atau pemberi Materi ... akan berfikir ...

    Jika ada banyak orang yang tiba-tiba minta izin untuk Pulang dengan berbagaimacam alasan ...
    Maka saya harus berkaca pada diri saya sendiri ...
    Ini artinya ...
    1. Materi yang saya berikan tidak dirasakan manfaatnya oleh mereka

    2. Cara memberikan materi saya membosankan ... sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk berfikiran pulang ...

    Salam saya

    (tetapi kalau ada yang darurat yaaaa mau gimana lagi)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pikiran "ekstrimnya" adalah ...

      Ini adalah sebuah tantangan bagi seorang Fasilitator ...
      bagaimana membuat materi, cara pembawaan dan kemapuan dirinya ... jaaaauuuhhh lebih menarik dari pada pikiran yang lain ... (urusan rumah sekalipun)

      (hahaha jahat ya)

      Salam saya

      Delete
  9. Duh...bisa kebayang gimana merasa bersalahnya mbak, baru2 ini aku merasa begitu jg, ikut andil dalam pemecatan 5 orang supir di kantor, pas pamitan bapak2 itu pada nangis cobaaa huhuhuhu >_<

    Gudlak ngontesnya mbak^^

    ReplyDelete
  10. wah, ga kebayang nek jadi mbak esti >.< pasti dilema banget, apalagi ini soal sakit ya :( moga aja ga ada kejadian gini lagi, mba

    ReplyDelete
  11. kebayang mbak andai berada di posisimu

    sukses buat ngontesnya ya

    ReplyDelete
  12. Pernah juga tuh ngalaman perasaan kayak gitu, kebayang hampir gak bisa tidur semalaman.
    Salam

    ReplyDelete
  13. perasaan berdosa harus ada karna manusia hanya adalah tempatya salah dan lupa

    ReplyDelete
  14. Sebaik - baiknyanya orang berdosa, mereka yang meminta ampun. Salam dari Pulau Tidung.

    ReplyDelete
  15. Yang penting janagan ngulangin lagi ya...

    ReplyDelete
  16. hahaa. . /.mantaplah, tapi intropeksi diri aja gan,

    ReplyDelete
  17. artikel nya nyidir banget yah gan

    ReplyDelete
  18. memang disetiap permasalahan selalu ada jalan keluarnya .

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar ^_^