30 Jun 2013

Nasi Bungkus

Sudah sejak lima tahun yang lalu, di setiap Ramadhan, saya dan teman-teman dekat (4 orang) menyempatkan diri untuk membuat nasi bungkus untuk dibagikan di jalanan dan stasiun bagi siapa saja yang berkenan menerima makanan sederhana itu. Nasi bungkus itu kami bagikan secara gratis. Dibagikan untuk orang-orang yang berpuasa untuk membatalkan puasanya.

Karena keterbatasan uang dan waktu, kami hanya bisa melakukan itu satu kali selama bulan Ramadhan. Kami memilih minggu ketiga. Ketika pekerjaan di tempat kerja masing-masing sudah agak berkurang dan tentu saja THR (Tunjangan Hari Raya) sudah cair hehe.

Sejak hari Sabtu, kami sudah mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Untuk beberapa bahan makanan yang lebih baik dimasak saat segar, kami membelinya Minggu pagi. Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya kami, sepagi itu sudah berbelanja, kemudian meracik dan memasak, setelah itu dibungkus satu-persatu. Rata-rata kami bisa menghasilkan hingga 300-an nasi bungkus plus 200-an palstik berisi kolak/setup pisang. Nasi bungkusnya memang tidak mewah, seperti nasi rames. Ada mie goring, sayur plus lauk. Murah meriah deh.

Capek? Tentu saja capek. Akan tetapi rasa capek itu terbayar ketika kami melhat wajah-wajah senang anak-anak jalanan, para penyapu jalan, tukang becak, atau orang-orang di stasiun yang menerimanya. Untuk orang-orang di stasiun, awalnya mereka ragu-ragu menerimanya, karena dipikirnya kami berjualan, tetapi setelah tahu kalau gratis, mereka mau menerimanya.

Ketika pertama kali melakukan kegiatan itu saya sempat terkesima melihat anak-anak jalanan yang berebut nasi itu. Sampai-sampai saya masih memegang kardus tempat nasi-nasi itu dan bengong dengan suksesnya melihat ‘keganasan’ anak-anak itu. Hingga salah satu teman dengan paksa menurunkan kardus yang saya pegang dan menarik saya menjauhi tempat itu.

“Mbak, kamu bisa dicakar-cakar kalau masih di sana,” bisiknya.

Saya tertegun karena melihat bagaimana mereka berebutan sedemikian rupa. Oh ya, apa sih yang saya harapkan, mereka mau antri dengan tertib gitu, pikir saya. Bagi saya, mungkin itu hanya bernilai satu bungkus nasi yang InsyaAllah bisa saya beli dengan mudah, tetapi bagi mereka…

Saya tidak sanggup melanjutkan kalimat di atas.

Kali kedua kami melakukannya, saat itu saya sudah memiliki calon suami. Jadi tim kami bertambah satu, yaitu Mas Budhi. Ia juga ikutan bantu sebisanya. Dan juga ikut membagikan ke jalanan. Karena Mas Budhi bukan orang yang ekspresif, jadi saya hanya tahu kalau Mas cukup mendukung acara ini. Hingga ketika kami sudah menikah, entah waktu itu sedang membicarakan apa.

Tiba-tiba Mas bertanya, “Kamu tahu apa yang membuatku sangat bahagia?”

“La apa?” pertanyaan balasanku hehe.

“Ketika mengetahui bahwa calon istriku ternyata orang yang sangat baik,” jawabnya kalem.

“Lho, mosok baru tahu, Mas?” sambil senyum-senyum menggoda.

“Kalau baik sih sudah tahu, kalau gak baik gak mungkin aku peristri, kan? Tetapi ketika melihat kamu membagikan nasi bungkus waktu Ramadhan kemarin. Aku sangat bersyukur memiliki istri yang mau berbagi terhadap sesamanya, orang-orang yang bahkan tidak kamu kenal,” penjelasannya panjang kali lebar.

Kali ini aku yang tidak sanggup berkata-kata, antara tersanjung dan terharu. Gak sanggup diucapkan dengan kata-kata deh.

-----000-----

Nasi bungkus itu adalah cara kami (saya dan teman-teman) menyemai cinta kami kepada Allah Swt. Sang pemilik segalanya. Karena cinta-Nya, kami bisa terus bersyukur dan menjalani hidup ini dengan baik. Nasi bungkus itu adalah cara kami menyemai cinta terhadap sesama, untuk bisa berbagi tanpa pamrih. Tanpa melihat yang mampu dan tak berpunya. Dan ternyata lewat nasi bungkus itu cinta calon suamiku, tumbuh dengan subur hingga saat ini dan semoga seterusnya. Aamiin.


59 comments:

  1. oo gitu yaa, cerita semaian cintanya sama pak budi :D *manggut-manggut*

    ReplyDelete
  2. Nikmatnya berbagi kepada sesama dengan tulus ikhlas bisa membuat kita bersyukur atas karuniaNya. Semoga dipertemukan dengan Ramadhan yang sebentar lagi tiba.

    Rayuan mas Budhi uhuy banget tuh mbak Esti. Membayangkan dirimu tersipu-sipu. qiqiqi.

    Terima kasih ya, tercatat sebagai peserta.

    ReplyDelete
  3. Ciyeee...
    Kalau ngasih orang trus orangnya seneng, rasane piyeee gitu ya...
    Semoga menang ya mbakkk...

    ReplyDelete
  4. “Ketika mengetahui bahwa calon istriku ternyata orang yang sangat baik,” jawabnya kalem.

    Pasti waktu itu pipinya jadi memerah dan agak2 salting begitu..

    ReplyDelete
  5. Subhanallah, terharu bacanya.. semoga rejeki Mbak dan keempat temannya terus bertambah dan menjadi berkah buat semua, Amin.. dan semoga makin dicintai suaminya, Aamiin...

    ReplyDelete
  6. indah sekali cara menyemai cintanya ..

    ReplyDelete
  7. semoga tahun ini bisa memagikan lagi nasi bungkus ya mbak. kita ketemuan lagi kah lebaran tahun ini? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin
      InsyaAllah Mbak, tar kontak2an ya :)

      Delete
  8. semoga mamasku seperti mas budi ya...hahahahahaha...dan aku bisa meniru kebaikan hati seperti mbakyuku ini..hikshiks....so sweet mesti meleleh pas dipuji mas budi :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..InsyaAllah yang terbaik buat Cheila
      Langsung pingsang dipuji gtu mah hehe

      Delete
  9. penyemaian cinta yang sangat indah mba...
    mesti kliyeng2 yo bar dipuji mamase ;)

    ReplyDelete
  10. Ramadhan hampir tiba. . .
    Berarti kegiatan menyemai cinta sudah mulai direncanakan ya, Mba. . .

    Sukses ngontesnya. . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga semua lancar ya
      Makasi Idah

      Delete
  11. Menyemai kasih melalui berbagi nih. Selamat menyambut ibadah Ramadhan Jeng Esti. Selamat meramaikan GA sahabat. salam

    ReplyDelete
  12. cara terbaik untuk mengetahui kebaikan calon memang harus terjun langsung dan melihatnya sendiri. Kalau perlu dengan sembunyi-sembunyi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masak harus sembunyi2 Mas? Jangan2 aq dimata2i ya *halah sok penting :P

      Delete
  13. Sukses GAnya Mbak Estiii...

    Ceritanya bagus tuuuhhh !

    ReplyDelete
  14. waah... sangat menyenangkan mba..
    sukses GAnya

    ReplyDelete
  15. Mulia sekali mbak kegiatannya :)

    Good luck ya buat GA nya

    ReplyDelete
  16. Berbagi cinta untuk orang lain, kelak kita akan menuai cinta pula

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nek ngomongke cinta kok fasih men Kang :P

      Delete
  17. dan cinta suami pun semakin besar, ya :)

    ReplyDelete
  18. Inspiratif banget, mbak Esti!
    Berbagi sekaligus mendapat tambahan cinta dari suami ya...hehe :D
    Mudah-mudahan ramadhan kali ini juga mbak dan teman-teman bisa melakukan kegiatan serupa. Ada tambahan tenaga suami juga...waaaah, senengnyaaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi Bu
      Qiqiqi iya, suami bagian angkut2 :P

      Delete
  19. nasi bungkus adalah kuliner yang disajikan setiap pagi dan petang di banyak warung kota Banjarmasin, dan tentu dengan nasi bungkus bisa terjalin kisah cinta yang romantis kapan pun....

    ReplyDelete
  20. trims kunjungan sobat 'nasi bungkus' kepelataran blog saya - salam

    ReplyDelete
  21. Dengan memberi maka kita akan menerima :)

    ReplyDelete
  22. datang berkunjung....

    haih, kegiatan yang sangat menyenangkan, lain kali ingin rasanya terjun langsung dalam acara seperti ini. semoga suatu saat sempat...

    ReplyDelete
  23. saya tersenyum iri lho mbak, lihat Mas budhi yang puji mbak, rasanya di kalimatnya ada jutaaan romantisme lho...

    saya kapan ya ngucapin kata2 seperti itu??

    ReplyDelete
  24. Nasi bungkus memang nikmat.hehe

    ReplyDelete
  25. Nasi Bungkusnya kok nggak nyampai Kendal...

    ReplyDelete
  26. Estiiii...
    bentar lagi mau puasa niiih,...
    proyek nasi bungkus nya mau dijalanin lagi kaaah??

    KAli ini udah ada yang nemenin yaaah...
    romantis ih, kayak drama korea aja...hihihi...

    ReplyDelete
  27. Cara menyemai cinta yang indah sekali, Mbak.
    Nasi bungkus itu bukan soal sederhana, sebab nyatanya hanya bisa
    dilakukan oleh yang mempunyai hati luar biasa.

    ReplyDelete
  28. cerita yang horor !
    eh, romantis -_-

    ReplyDelete
  29. Bukan hanya suamimu yang kagum, Mak. Saya juga ikut terharu dan salut dengan aktivitas kalian yang ini. Sungguh mulia hatimu dan ketiga teman lainnya. Mas Budhi memang tak salah memilihmu, Mak! Berhati mulia dan seputih pualam. Semoga diberi kemudahan untuk tetap melanjutkan aktivitas mulia ini, ya, Mak. :)

    Salam Ramadhan.

    ReplyDelete
  30. Dirimu memang wanita mulia, Mak Esti. Kebayang bagaimana bahagianya wajah2 anak jalanan itu, saat mendapatkan berkah ini. :) Sukses selalu yaaa.

    ReplyDelete
  31. Hallo mbak Esti, apa kabar ? lama juga ya blom ada cerita baru :)

    ReplyDelete
  32. indahnya berbagi... indah tuk yg mendapat nasi bungkusnya.. dan indah juga tuk yang membaginya karena mendapat santungan dari orang tercinta.. :)

    ReplyDelete
  33. Wow manis sekali mbak Esti .... moga bahagia selamanya :)

    ReplyDelete
  34. So sweet Mbak Esti..Ketemu cinta lewat nasi bungkus. Semoga terus awet ya :)

    ReplyDelete
  35. wuik.. masih ketemu sego bungkus disini..

    ReplyDelete
  36. saya doakan di Ramadhan berikutnya bisa bikin nasi bungkus lagi utk anak2 jalanan, plus menghidangkan sahur dan buka puasa khusus untuk Pak Budi.

    Maaf kalau lancang, hehehehe.

    ReplyDelete
  37. Memberi makaan dan minum kepada orang yang sedang berpuasa atau fakir miskin atau siapa saja yang memerlukan sangat mulai Jeng
    Semoga bernilai ibadah
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  38. Alhamdulillah; semoga semakin banyak org yg bisa berbuat spt ini ;)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar ^_^