Social Icons

31 Dec 2012

Kemewahan Yang Manis

Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adik saya bernama Wahyu dan Restu (biasa dipanggil Tutut). Jarak usia antara saya dan Wahyu sekitar 2,5 tahun, sedangkan dengan Tutut 9 tahun. Karena jarak usia saya yang cukup dekat dengan Wahyu, sedari kecil kami sering melakukan banyak kegiatan bersama, dari bermain, rebutan barang atau berkelahi hahaha. Kalau dengan Tutut lebih banyak momongnya *ah yang bener?

Dengan bertambahnya umur, perlahan tapi pasti intensitas kebersamaan kami mulai berkurang. Masing-masing dari kami memiliki kesibukan masing-masing. Tetapi karena masih tinggal satu atap dengan Bapak dan Ibu, paling tidak kami masih bertemu di pagi atau malam hari, serta di hari Minggu atau hari libur.

Keadaan mulai berubah ketika tahun 2008 saya pindah dari rumah orang tua dan tak lama kemudian Wahyu diterima bekerja dan ditempatkan di luar Jawa. Awalnya seperti ada yang hilang karena sejak kecil selalu bersama, tetapi lama-lama bisa juga beradaptasi dengan situasi yang baru. Oh ya, Wahyu menikah bulan April 2010, jadi ia sudah tidak sendirian lagi di sana ^_^ kasihan juga membayangkan ia jauh dari rumah dan sendirian pula.

Wahyu pulang ke Semarang mungkin 2-3 kali setahun, kalau terlalu sering bisa bangkrut dia haha. Lebaran tahun ini dia tidak pulang, karena sebulan sebelumnya sudah pulang untuk keperluan lain.

Tidak disangka pertengahan bulan November, ia dan Luky (istrinya) memberikan kejutan, mereka pulang ke Semarang. Mami sih sepertinya sudah tahu, insting seorang ibu kata beliau, jadi sudah diberesin tuh kamar buat mereka haha.

Dan secara kebetulan pula, salah satu hari dimana selama satu Minggu mereka di Semarang adalah hari ulang tahun saya. Duh, senangnya bisa berkumpul di hari ulang tahun dengan keluarga lengkap. Sejak tahun 2008, baru tahun 2012 ini bisa lengkap begini *terharu. Sebenarnya rencana mau buat nasi kuning buat makan bareng-bareng, tapi hari itu masih lembur sampai sore, jadi diputuskan beli lauk saja, dan Mami hanya menyiapkan nasi (biar Mami juga tidak kecapekan).

Ulang tahun ini memang tanpa kue tart dan nasi kuning, tapi saya sangat bahagia sekali bisa berkumpul dengan keluarga. Bahagia melihat senyum Papi dan Mami ditengah anak-anak mereka yang 'lengkap'.

Bagi orang lain mungkin ini terlalu sederhana, tetapi bagi saya ini kemewahan yang luar biasa manis. Terima kasih untuk kebahagiaan ini Ya Allah.
 
Keluarga Inti Kami 'dulu' :)
Ki-Ka: Wahyu, Papi, Tutut, Mami, dan Luky

Papi, Mami, dan Tiga Anak Perempuan
 
Khusus yang sudah berpasangan hehe
  
Papi dan Mami *liat backgroundnya :)

Setelah melihat foto-foto ini, jadi punya keinginan foto keluarga deh. Semoga saja terwujud di tahun depan. Aamiin.

"Kenangan Manis Untuk Giveaway Manis-Manis"

15 Dec 2012

Surat Cinta Untuk Yang Tercinta

Pernah mengalami LDR (Long Distance Relationship)?

Jelas pernah dunk *gak bangga :)

Dan menjalin hubungan sejenis itu gak gampang walau pun bukan hal yang mustahil

Komunikasi, pengertian, dan komitmen antara dua orang yang menjalin hubungan jarak jauh, harus benar-benar terus dijaga. Ini bukan basa yang basi, tapi kenyataan lo. Ada saat-saat kita membutuhkan orang yang kita sayangi ada disamping kita, walau cuma sebentar. Dan itu hal angat mewah untuk pelaku LDR.

Momen-momen tertentu memang harus benar-benar digunakan sebaik mungkin sebagai penyubur hubungan. Misalnya: hari Valentine (berasa ABG), hari ulang tahun pasangan,dan juga the most important tentu saja tanggal jadian.

Sebagai mantan pelaku LDR, saya juga memahami bagaimana sulitnya mencari hadiah untuk pasangan nun jauh disana. Sesuatu yang istimewa, sesuatu yang membuat saya bahagia memberikan 'itu' kepadanya, sesuatu yang bisa 'membuat' ia semakin menyayangi saya.

Saya salut banget sama Budhe Gembul, menjalin hubungan jarak jauh dan bisa bertahan selama 5 tahun. Itu WOW banget. Karena cuma boleh mengemukakan satu ide, maka saya ingin memberikan usulan, yaitu membuat surat cinta untuk kakanda tercinta. Surat itu ditulis tangan dan dikirim lewat pos. Ceritakan apa yang Budhe rasakan dari awal hingga saat ini tentang hubungan kalian. Mungkin hal ini terkesan jadul (jaman dulu) banget. 



Di saat era ketik-mengetik pakai komputer sudah sedemikian mewabah, ngobrol via handphone dan YM (serta sejenisnya) sudah sangat mudah, butuh pengorbanan lo untuk kembali menulis surat. dan saya pikir hal itu pasti bisa membuat si Mas 'agak' terkesan. Entah terkesan atas kerja keras Budhe atau terkesan akan betapa 'kurang kerjaannya' si Budhe hahaha.

Akhir kata, saya sangat berharap Budhe segera dapat bersanding dengan si Mas. Jauh-jauhan dalam waktu yang sangat lama tidak baik bagi kesehatan lo. Gak ada yang nraktir kalau jajan, gak ada yang bantu-bantu angkat barang, gak ada.... (isi sendiri deh) hahaha.

Kadang kita harus mengorbankan ego kita untuk sesuatu dan seseorang. Bukan berarti kita mengalah, tetapi lebih kepada apa yang kita prioritaskan dalam hidup. Hidup adalah pilihan. Jangan sampai kita baru merasa sesuatu itu sangat 'berharga' ketika kita sudah kehilangan. 

Salam saya, si mantan pelaku LDR ^_*


"Postingan ini diikutsertakan dalam 5th Anniversary Giveaway"

Template Idaman Hati


Blogger tanpa tulisan apa masih bisa dianggap blogger? 

Tapi itu pernah terjadi pada saya.

Mengapa?

Sebagai perempuan pasti donk kita punya banyak keinginan untuk memiliki barang-barang yang bagus dan cantik. Hal itu pun berlaku untuk saya dalam berbagai sisi kehidupan *plak plak. Tak terkecuali dengan desain blog. Entah sudah berapa puluh kali saya browsing mencari-cari template yang cantik menurut saya. Sehari pernah sampai 30 kali gonta-ganti template hihihi. Saking asyiknya, sampai-sampai saya malah jarang update tulisan di blog. 

Dan bahkan karena pengen banget punya blog yang cantik, saya beli buku tentang desain blog. Karena memiliki penyakit gaptek tingkat akut, tetep aja gak bisa mengaplikasikan apa yang ada di buku itu. Saya juga pernah bertanya ke seorang designer template yang menerima pesanan membuatkan template (seperti mbak sinta inih), hiks ternyata mahal bok *elus-elus dompet.

Akhirnya karena capek, saya pun malah memilih desain blog yang paling sederhana. Dan sejak itu berusaha meredam keinginan punya template cantik, karena cukup sadar diri, dengan kegaptekan saya, itu hal yang susah banget diraih *hiks. 

Dan ketika membaca tentang Giveaway-nya Mbak Shinta, hati saya merasa berbunga-bunga. Sapa tahu saya cukup beruntung mendapatkan template idaman saya.

Mau tau template seperti apa yang selama ini saya idam-idamkan? Cekidot.

Saya suka sekali dengan bunga. Karena itu pengen banget header dari blog ku nanti ada bunga di satu sisinya. Dan di sebelahnya ada tulisan judul blog-ku. Seperti ini contohnya:

sengaja di balik, biar gak dikira promosi :)

Selain itu saya pengen label tulisan ada di atas tapi berbentuk gambar gitu. Seperti pada blog mbak shinta poulsen (namanya sinta kok pada jago bikin template yah?). Jadi kalau mau masuk ke beranda tinggal klik gambar rumah, kalau pembaca mau membaca cerita tentang keluarga, klik gambar sepasang pria dan wanita, ingin membaca tentang anak kami (amin) tinggal klik gambar baby, dan seterusnya.



Karena penggila bunga, bunga juga ada untuk membatasi gadget yang satu dengan yang lainnya. Kesannya so feminine gitu *berasa cantik hehehe. Kira-kira seperti ini:



Untuk setiap posting juga dalam kotak-kotak yang dipinggirnya ada bunga sejenis sulur. Gak penuh, karena ntar malah keramaian, cuma di sisi kanan atas dan sisi kiri bawah. Ini contohnya, tapi nanti letaknya aja yang beda:


Untuk kotak komennya pengen punya yang seperti di mbak shintaries hehehe

Perpaduan warna yang saya inginkan adalah putih, hijau, dan kuning cerah. Putih untuk background postingan sedangkan untuk kuning dan hijau untuk kombinasi bunga-bunganya gitu. Saya memilih tiga warna ini karena warna-warna ini adalah warna tema pernikahan saya tiga tahun yang lalu. Dan kami pun menikah di bulan Desember ini.

Mohon maaf mbak Sinta, kualitas fotonya gak bagus. Untuk foto pertama saya ngubek-ngubek kompi, itu sudah lama banget hihihi. Mudah-mudahan blog saya bisa di make over sama Mbak Sinta (shintaries.com), ehm ehm itung-itung hadiah ulang tahun pernikahan gitu *kedip-kedip manja* hahaha.

2 Dec 2012

Liburan dan Indosat SuperWiFi

Apa yang paling menyenangkan ketika liburan?

Tentu saja jalan-jalan *horeee...

Setelah enam hari berkutat dengan komputer dan tumpukan pekerjaan lain (karena saya masih masuk kantor pada hari Sabtu *hiks), tentu saja sangat menyenangkan menghabiskan hari Minggu dengan berjalan-jalan berdua dengan suami. Walau cuma sehari, yang penting kualitasnya kan?

Biasanya sih kalau cuma sehari libur (baca: hari Minggu), kita cuma jalan-jalan di daerah Semarang. Karena Senin kan sudah masuk lagi. Biar tetap fresh gitu ketika masuk kantor.
Nah, sekitar dua minggu lalu kan ada libur panjang tuh, libur menyambut satu Muharram, kemudian keesokannya cuti bersama, dan dapat libur satu hari lagi karena kebijakan Pak Bos. Aaaah..pas banget deh, saat itu saya berulangtahun *jadi berasa tua.

Gak mungkin dong deh kita melewatkan empat hari libur (plus Minggu) dengan hanya duduk-duduk di rumah saja. Rugiiii...

Jadilah kita memutuskan untuk jalan-jalan ke daerah Bandungan, yang masuk dalam wilayah kabupaten Semarang. Kita memilih Bandungan karena selain banyak tempat wisata yang menarik, di sana udaranya sejuk, beda gitu dengan Semarang yang super panas *lap keringat.

Singkat cerita, kita pun menghabiskan long weekend di Bandungan. Lagi asik-asiknya jalan-jalan dan menikmati pemandangan. Tiba-tiba ada sms masuk dari bu bos. Beliau minta dikirimi lagi email yang sudah kukirimkan sebelum libur, katanya itu email belum dia terima. Eya ampyun, ditengah liburan begini, mana mungkin kan saya bawa netbook dan modem.

Ditengah kegalauan mau mengirim sms balasan yang menyatakan bahwa saya tidak bisa melakukan yang beliau minta (dan itu sulit my men, bu bos gitu lo), iseng-iseng saya aktifkan pencarian WLAN, tidak disangka tidak dikira, kok ya ada sambungan internet. 

Disitu tertera dengan jelas “Indosat SuperWiFi”. Oemji, ditengah perbukitan begini gitu lo. Dengan segera saya mengirim ulang (resend) email yang kemarin.

Alhamdulillah, email bisa diterima dengan aman sentosa oleh bu bos. Dan saya pun bsa melanjutkan liburan dengan hati riang. Terimakasih Indosat.

Ini pengalamanku, bagaimana pengalamanmu temans?

Semoga harimu menyenangkan ^_^

How I Met Your Mother

"Jangan memakai standar orang lain pada diri kita"

Itu yang saya katakan pada seorang sahabat ketika ia bercerita tentang omongan orang lain mengenai acara pernikahannya yang dinilai kurang ini dan itu.

-----000-----

Si Bibi Titi Teliti emang jago kalau mencari judul postingan. Bikin penasaran gitu. Termasuk judul postingan How I Met Your Mother. Awalnya saya berpikir kalau postingan ini menceritakan kisah Abah yang ketemu sama si Bibi atau adegan-adegan lain yang romantis menurut imajinasi liar saya hihihi. Ternyata ini salah satu judul film (atau sinetron ya tepatnya) sitkom (situasi komedi) *tepok jidat.

Menurut analisis saya (nggaya.com), isi dari postingan ini sebenarnya menceritakan tentang Kayla yang sakit. Saya juga bingung apa hubungannya juga dengan si judul itu. Tapi kok ya saya dengan sangat antusias membaca postingan ini dan luar biasanya lagi dengan mudah memaafkan tambahan tulisan tentang sinetron yang jelas-jelas gak nyambung dengan inti dari postingan itu hahaha. 

Kalimat-kalimat di bawah foto ini menurut saya adalah moral of the story dari postingan si Bibi. 


Kejadian Kayla sakit kemarin, telah membuat gue jadi mulai memikirkan banyak hal, tentang hidup ini.
Gue merasa, terkadang gue suka merasa terburu buru dan gak sabaran. Entah apa yang gue cari, entah apa yang gue kejar. Kadang gue sering membatin dalam hati, duh, pengen anak anak cepet gede supaya gue bisa leluasa melakukan ini itu atau, ehm ..pengen cicilan rumah cepet lunas supaya gue bisa begini,pengen ini cepet tuntas supaya gue bisa begitu
Gue seakan akan berlari mengejar sesuatu, entah apapun itu, entah kemana, dan ketika sampai tujuan which is akhir hidup kita ya udah gitu deh *apaan sih?*
Terkadang gue lupa bahwa terkadang kita harus berhenti sejenak, melihat sekeliling dan mengucap syukur atas semuanya….
Terkadang gue lupa bahwa hidup ini adalah perjalanan. Dan perjalanan itu harus dinikmati
-----000-----
Membaca kalimat-kalimat tersebut, saya seperti tertohok dalam sekali *sampai meringis. Saya pun sering lupa untuk bersyukur dengan apa-apa yang saya punya, Dan hendak mengejar ini dan itu. Membaca postingan ini mengingatkan saya, di awal tahun ini banyak sekali rencana-rencana yang saya buat dan beberapa memang seakan memburu atau mengejar sesuatu. Padahal sudah banyak sekali yang telah Allah Swt berikan kepada saya hingga detik ini.

Terburu-buru dan tidak sabaran, apalagi ketika saya merasa bahwa 'sebenarnya' saya pantas untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Bahkan terkadang saya membandingkan orang lain yang telah mendapatkannya lebih dulu daripada saya. "Ah, sepertinya saya lebih pantas daripada ia", itu yang ada dalam benak saya. Astaghfirullah.

Saya memang tidak memakai standar orang lain untuk diri saya, tetapi yang lebih parah, saya memaksakan 'standar Allah Swt' agar sesuai dengan standar saya. Ih betapa tidak tahu dirinya saya ini. Jika memang saya belum pantas mendapatkan 'sesuatu' maka seharusnya saya berusaha 'memantaskan' diri di hadapan Allah untuk mendapat ridho-Nya atas apa yang saya inginkan.

Dan tentu saja, sambil menikmati perjalanan hidup ini ^_^

Tulisan ini diikutsertakan pada Bibi Titi Teliti Korean's Giveaway

1 Dec 2012

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran


Apa sih yang membedakan kaum muda dulu dan sekarang? Sebenarnya kaum muda dulu dan sekarang itu tidaklah berbeda, mereka sama-sama merasakan kegelisahan. Hanya saja kegelisahan pemuda dulu disalurkan dengan membentuk Jong Java, Jong Sumatera, dan Jong-Jong lainnya. Ya, kegelisahan mereka adalah bagaimana membawa bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka dan mandiri. Dan membentuk wadah yang tepat dengan kegiatan yang positif. Sehingga terlahirlah Sumpah Pemuda yang kita kenal hingga saat ini.

Bagaimana dengan kegelisahan pemuda saat ini? Kegelisahan pemuda saat ini justru lebih kompleks, yang dikarenakan adanya ketidakpastian dalam bidang hukum, ekonomi, dan sosial budaya yang dihadapi bangsa ini. Hanya saja mereka tidak menyalurkan kegelisahannya dengan cara yang positif. Pemuda adalah makhluk yang dinamis, tetapi dinamis yang kebablasan bisa mengarah ke anarkis. Kegelisahan dan kekecewaan mereka diimplementasikan dengan tindakan yang tidak sepatutnya. Contohnya tawuran.

Tawuran, berasal dari kata tawur yang berarti perkelahian beramai-ramai; perkelahian massal (dari kamus bahasa Indonesia online). Kata itu sudah terdengar sejak dulu, dan bertambah sering kita dengar akhir-akhir ini. Sekarang tawuran tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tapi sudah merambah ke kota kecil bahkan tingkat desa. Pelakunya pun beragam, mulai dari pemakai seragam putih abu-abu, hingga kaum intelek di kampus (baca: mahasiswa).

Bagaimana cara mencegah dan menanggulangi tawuran?

“Jika Anda bertanya bagaimana cara agar tawuran tidak terjadi lagi. Itu sama saja dengan Anda menanyakan, Apakah korupsi di negeri ini bisa dihentikan.”

Itu adalah sebagian dari obrolan yang pernah saya dengar di radio. Saya tertawa perih mendengarnya. Sudah begitu sakitkah bangsa ini?

Tawuran bukan lagi masalah bagi sekolah atau universitas tetapi sudah menjadi masalah bangsa. Masalah kita bersama. Karena itu sudah sepantasnya kita sebagai warga negara memberikan sumbangsih walau pun hanya sebentuk pendapat saja.


Dan ini adalah pendapat saya, mengenai cara mencegah dan menanggulangi tawuran :

1.Mencari Penyebabnya

Saya sempat membaca di papan pengumuman di salah satu fakultas di Universitas terkenal di Semarang, kira-kira bunyinya seperti ini : “Bertemu besok di tempat biasa jam 7 malam. NB: BAWA SENJATA SECUKUPNYA!”

Konon ceritanya, dua fakultas yang mayoritas penghuninya cowok tersebut sudah jadi musuh bebuyutan sejak lama. Dan yang saya dengar tentang tawuran pelajar di Jakarta, antar dua sekolah yang pelajarnya tawuran tersebut pun mempunyai kisah yang sama.

Sudah jadi musuh sejak dulu.

Sebenarnya siapa yang sudah menanamkan bahwa “mereka saling bermusuhan”? Tidak mungkin pihak sekolah/universitas yang mendoktrin mereka bukan? Kemungkinan terbesar ‘oknumnya’ adalah kakak kelas atau kakak tingkat mereka sendiri. Sehingga doktrin itu menjadi sebuah pembenaran publik.

Ya, mereka musuh kita. Kalau ketemu di jalan langsung sikat saja.

Mungkin begitu yang ada dalam pikiran mereka. Dan ‘dendam’ itu diwariskan turun-temurun secara berkesinambungan.

Solusinya adalah mata rantai itu harus diputus.

Lalu, siapa yang memiliki tanggung jawab sebagai si ‘pemutus’?

Kalau menurut saya, yang paling mempunyai wewenang adalah pihak sekolah atau universitas tersebut.

Membahas bersama di satu meja, langkah-langkah apa yang bisa ditempuh untuk mendamaikan kedua belah pihak. Ikut sertakan organisasi kepemudaan di masing-masing sekolah atau fakultas, tidak lupa ‘gembong-gembongnya’ pun harus diajak serta. Saya yakin pihak sekolah atau fakultas tahu benar siapa-siapa saja yang menjadi ‘pentolan’ dalam hal tawuran ini. Dengan begitu diharapkan, rantai ‘dendam’ hanya cukup sampai disitu. Dan tidak ada lagi, kakak kelas atau kakak tingkat yang memberikan pemahaman yang salah terhadap generasi di bawahnya.

Kita tidak mau bukan jika geng-geng sekolah ini berkembang menjadi seperti yakuza di Jepang atau mafia di Hongkong?
 

2.Mendidik bukan Mengajar

September lalu, ketika saya mendapat tugas monitoring tentang kurikulum ke sekolah-sekolah, saya melihat fenomena yang menarik. Siswa yang duduk di Sekolah Dasar (SD) cenderung memiliki sopan santun yang cukup baik. Pelajaran tentang budi pekerti yang ditanamkan para guru diserap dan diaplikasikan dalam kehidupan di sekolah. Hal ini sangat berbeda ketika saya berkunjung ke sekolah menengah. Pelan tapi pasti, sopan santun mulai memudar. Siswa-siswi mulai terlihat seenaknya, baik dalam bertutur kata mau pun berperilaku. Bahkan pernah terjadi kasus di kantor saya dengan siswa menengah yang magang karena sopan santun mereka yang minus. Entah kemana sopan-santun yang mereka anut ketika di sekolah dasar.

Sekolah/universitas adalah tempat untuk mendidik dan bukan hanya tempat untuk mengajar.

Sekolah/universitas bukan hanya tempat untuk mengajarkan ilmu tetapi juga bertugas mendidik karakter para siswa/mahasiswa agar ilmu yang mereka dapat, bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan siswa yang sudah ‘terlanjur’ bermasalah?

Jika usia mereka di bawah 18 tahun, tentu saja mereka masih dalam peradilan anak. Yang biasanya pembinaan dikembalikan ke sekolah dan orang tua. Peradilan umum tidak bisa menyentuh mereka, disinilah diperlukan ketegasan dari sekolah membuat peraturan dalam bentuk sanksi yang mendidik. Misalnya: kerja sosial di panti jompo selama kurun waktu tertentu.

Pihak pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, perlu kiranya mulai membuat peraturan yang tegas mengenai hal ini, agar pihak sekolah pun memiliki pijakan hukum yang pasti mengenai pemberian sanksi terhadap siswa yang bermasalah.

3.Peranan Orang Tua dan Lingkungan

Rumah adalah sekolah pertama bagi anak-anak.

Sangat disayangkan alih-alih mendidik anak-anak mereka, orang tua malah berpikiran menyerahkan sepenuhnya tugas mendidik anak-anak mereka ke sekolah formal. Sedangkan mereka sibuk mencari uang dengan dalih untuk masa depan anak. Dan ketika anak-anak mereka bermasalah, semua kesalahan ditimpakan kepada pihak sekolah dan pemerintah

Begitu pula dengan lingkungan, saat ini organisasi kepemudaan seperti karang taruna sudah tinggal nama. Tidak ada organisasi yang mewadahi para pemuda untuk menyalurkan tenaga mereka yang seakan tak ada habisnya untuk kegiatan yang positif.

Kepedulian dan pengawasan dari orang tua serta lingkugan bersinergi dengan pendidikan berkarakter kebangsaan yang diberikan di sekolah, akan membentuk dan menghasilkan generasi penerus bangsa yang terbaik untuk negeri ini.

 -----000-----

Kita jangan sampai berkecil hati untuk menghadapi masalah tawuran ini. Harap diingat, disamping pelajar dan mahasiswa yang tawuran, ada pemuda-pemuda lain yang berprestasi tidak hanya di skala nasional tetapi juga di skala internasional. Mereka mengharumkan nama bangsa ini.

Jika masih ada Anda-anda yang perduli terhadap nasib bangsa ini, Saya yakin keterpurukan bangsa ini dapat kita atasi bersama.

Mari kita tingkatkan jumlah Anda-anda yang perduli!

Wahai kaum muda jadilah pemuda dinamis yang berwawasan humanis! MERDEKA!

Artikel  ini diikutsertakan pada 
Kontes Unggulan Indonesia Bersatu:Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran