Halooo... (sambil bersih-bersih rumah karena lama gak posting hehe) Karena kemarin-kemarin ribet bolak-balik luar kota (sok sibuk) terlewatkan deh beberapa kontes (maksud lo Est???). Maklum lah kalau lagi gak punya ide, ikut kontes bisa nambah-nambah postingan kan *alibi (hehehe).
Dalam perjalanan luar kota kemarin, ada sesuatu yang membuatku tercenung beberapa saat. Mbak nini, teman seperjalananku bercerita tentang teman seruangannya, Mas Tono. Dalam pandangan oang lain, Mas Tono dianggap sudah memiliki segalanya pada usia yang sangat muda. Lulus kuliah langsung keterima PNS, kemudian menikah dan segera mendapat momongan. Ketika saya bertemu dengannya, dia sudah memiliki keluarga kecil dan sedang membangun rumah, usianya saat itu 26 tahun. Ketika menginjak usia 30an tahun, Mas Tono bahkan sudah dapat naik haji. Sangat luar biasa menurut saya.
Tetapi Mbak Nini bercerita, ketika teman-teman seruangan yang lain membeli rumah, Mas Tono berkata bahwa dia pun ingin punya rumah, padahal ketika itu ia sudah memiliki rumah yang cukup bagus untuk ukuran pegawai yang baru bekerja 5 tahunan.
Saya pun nyeletuk, "Loh bukannya Mas Tono sudah punya rumah Mbak?"
Mbak Nini menjawab, "Iya, tapi katanya ia (mas tono) gak punya apa-apa. Itu semua milik bapaknya."
Iya, kami semua tahu bahwa orang tua Mas Tono memang orang yang cukup berada, dan ia juga pernah bercerita apa-apa yang dimilikinya adalah pemberian orang tuanya.
Saya teringat kata-kata seorang teman, ketika itu kami sedang berkunjung ke rumah teman lain yang baru pindah rumah (tilik kalau bahasa jawanya). Si pemilik rumah bercerita bagaimana ia dan istrinya merancang serta membangun serta mencari material untuk memperindah rumah mereka. Tampak raut kebanggaan dan kepuasan dari pasangan suami istri tersebut.
Salah seorang teman yang ikut tilik berkata, "Asyik ya Pak, kalau bisa menentukan apa-apa sendiri, saya gak bisa, la gimana yang mbangun rumah orang tua." Kuperhatikan wajahnya saat itu tampak ada ketidakpuasan di sana.
Haaaah...ada pikiran jahat yang berkelebat saat itu. Dalam hati saya berkata, kamu belum tentu bisa membangun rumah seperti yang kamu tinggali sekarang walau pun sudah bekerja 10 tahun.
Mereka (Mas Tono dan teman tadi) sama sekali tidak bisa bersyukur dengan nikmat yang mereka miliki, pikir saya ketika itu. Apakah mereka bisa membayangkan seperti kami-kami ini yang untuk bisa punya rumah harus utang, beli mobil menyekolahkan SK, itu belum termasuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Tetapi disitulah titik kenikmatannya, kenikmatan yang tidak mereka rasakan, ketika kita dapat membeli apa-apa dari hasil keringat sendiri, ada kebanggaan dalam hati yang tidak bisa diganti dengan apa pun. Nikmatnya ketika bisa membeli meja seharga 600 ribu, nikmatnya ketika bisa membeli rumah seharga "cuma" beberapa puluh juta (mana masih utang lagi utang kok bangga), nikmatnya bisa beli mobil yang kalau dipakai bunyi klotakan hahaha.
Dengan pemikiran dalam kesulitan ada kenikmatan, saya lebih optimis dalam menyongsong hari esok. Kesulitan yang kita hadapi sekarang,insyaAllah akan membawa kenikmatan ketika kesulitan tersebut dapat diatasi.
Sesungguhnya tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi, tapi karena kemampuan kita (manusia) yang belum mencukupi untuk mengatasi masalah tersebut.
*edisi mengingatkan diri sendiri
Bagaimana hari mu kawans? Semoga menyenangkan ^_^