Awal karir saya sebagai koki atau panggilan bekennya
chef, sudah saya rintis sejak belia lo..Gak percaya? Coba deh disimak cerita inih ^_^
Kwetiau Goreng
Ketika duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, para guru mengadakan lomba memasak antar siswa khusus di kelas kami. Saya agak lupa untuk memeriahkan acara apa. Nah, karena notabene muridnya mayoritas beretnis Tionghoa (SD saya di Pontianak), maka lomba masaknya, lomba masak kwetiau goreng.
Kelompok saya terdiri dari 4 (empat) orang, saya (Esti), Linda, Christine, dan Lastri. Kebetulan dari kita berempat tidak ada yang
Chinese, Linda dan Lastri orang Batak, Christine dari suku Dayak, sedangkan saya, bapak ibu Jawa tulen. Tapi kita semangat lo untuk ikutan lomba itu.
Mulailah kita bagi-bagi tugas, Linda bertugas bawa kompor (dulu masih pakai kompor minyak), Lastri bawa penggorengan, saya kebagian membawa bahan-bahan masakan serta bunga, dan Christine bawa pernak-pernik seperti piring saji lengkap dengan sendok garpu dan vas bunga. Untuk apa bunga dan vas bunga? Nanti deh penjelasannya.
Dan kita sepakat, sebelum lomba dilaksanakan, masing-masing dari kita belajar buat kwetiau goreng dari Emak masing-masing. Selama seminggu di rumah menunya kwetiau goreng hahaha.
Akhirnya hari perlombaan tiba. Pagi-pagi sekali saya diantar Bapak pergi ke Pasar Kota Baru (masih ada gak ya pasar itu?), untuk pertama kalinya saya belanja sendirian tanpa Ibu. Beli kwetiau putih yang masih mentah, dan beberapa jenis sayuran.
Sampai di sekolah langsung ketemu dengan teman sekelompok lain, sambil membantu Linda membawa kompor kita ngobrol ala anak SD tentu saja hehe
Lomba dimulai, mulai deh kita menyalakan kompor dan menumis bumbu, takaran bumbu dikira-kira sesuai petunjuk Ibu, ya iya lah seminggu masak itu mulu masak gak ingat takarannya hahaha. Mulai campur-campur segalamacam bumbu dan bahan, dan yang istimewa, Ibu sengaja membawakan kaldu daging sebagai tambahan supaya masakannya tambah maknyus.
Setelah kwetiau selesai, kita mulai menaruh di piring saji, sambil dihias dengan kulit tomat, cabe dan timun yang dibentuk bunga (pssst..kalo yang ini kita bawa jadi dari rumah haha). Waktu itu minuman pendampingnya jeruk hangat. Nah setiap kelompok memajang hasil karyanya di meja saji, lengkap dengan minuman dan sebagai pemanis tentu saja bunga dalam vas cantik. Dan kita diminta untuk memberi nama kelompok masing-masing. Daripada bingung-bingung kita kasi saja nama kelompok kita, Asoka, karena kebetulan bunga yang dipajang di vas adalah bunga Asoka.
Kemudian Bapak Ibu guru mulai icip-icip. Kita sempat minder dengan hasil karya teman yang kelompoknya terdiri dari anak-anak orang kaya. Piring sajinya bagus banget, penataannya juga oke, apalgi banyak gelindingan baksonya. Wah, mewah dan meriah deh dari segi penampilan. Tapi yah namanya anak SD mana mikir yang aneh-aneh, sambil nunggu hasil kita main lari-larian *tetep
Dan ketika pengumuman pemenang, Asoka nomer satu loh, senangnya *walau gak ada hadiahnya wkwkwk. Sampai pengen jingkrak-jingkrak deh gak nyangka banget
 |
| Bukan karya sendiri, foto hasil jajan :P |
-----000-----
Itu adalah kesuksesan masa lalu saya, bagaimana dengan sekarang? Saya masih suka memasak seperti yang pernah saya ceritakan di
Mari Masak, memasak bagi saya bukan hobi tetapi sudah pada kebutuhan. Ya kebutuhan untuk makan, dan kebutuhan untuk menyiapkan makanan untuk orang-orang tercinta.
Saya suka mencari resep-resep baru di internet untuk referensi, karena buku masak ternyata mahal hehe. Dalam mencoba menu baru, sering berhasil (baca: enak dimakan) juga bukan berarti tidak pernah gagal. Mari disimak kegagalan memasak saya *sambil nutup muka karena malu.
-----000-----
Donat Enak Banget
Kalau untuk memasak masakan lauk pauk saya bisa menepuk dada, tapi kalau sudah bicara tentang membuat kue/roti, saya angkat tangan deh. Bukan karena gak suka kue (malah sebaliknya) tapi menurut saya membuat kue itu lebih ribet.
Tetapi ternyata suami tercinta nusantara saya suka banget ngemil *lirik suami yang tambah makmur. Dan kue favoritnya adalah DONAT. Waktu awal nikah ia pernah tanya, "bisa buat donat gak, Nok?"
Jawaban saya, "Hmmm...dulu sih pernah mbantu ibu buat tapi belum pernah buat sendiri. Ntar ya Mas saya cari resepnya dulu". Weeiits...kalo cuma cari resep doang ya garing duonk, tentu saja setelah dapat resep (yang paling mudah hehe) saya kemudian mencoba buat sendiri.
Waktu itu ada si Ika (adik) yang membantu, karena si Ika dulu tamatan SMKK, ah tambah pede dong saya dalam pembuatan donat ini. Ketika kita mulai campur-campur bahan, si Ika dengan tegas wal yakin memberi instruksi kalau bahan ini kurang, bahan itu tambah lagi. Sempet sih merasa, kok kayaknya kebanyakan ya menteganya. Yah tapi mosok meragukan anak lulusan SMKK jurusan tata boga, emang minta dikeplak *si Ika badannya gede, takut ah xixixi.
Akhirnya sampai juga pada tahap terakhir yang paling tidak kusuka, nguleni, bahasa Indonesianya mungkin mengaduk pake tangan. Setelah nguleni *sambil pakai jurus karate segala, rasanya kok belum kalis juga, padahal udah cukup lama nguleninya *pakai dibanting-banting segala lagi. Haah..karena menginginkan hasil yang maksimal, saya melanjutkan kegiatan nguleni dengan penuh hikmad. Setelah dirasa cukup (walau ada perasaan ragu yang terselip) akhirnya saya menghentikan kegiatan yang melelahkan itu.
Sambil nunggu adonan mengembang, kita bersih-bersih dapur. Setelah ditunggu satu dua jam bahkan sampai bangun tidur siang, kuintip-intip itu adonan kok gak mengembang juga ya. Gak sama seperti waktu membantu membuat donatnya Ibu.
Tapi karena sudah sore, akhirnya adonan itu tetep saya bentuk donat dan digoreng. Dan bagaimana dengan rasanya, waah enak banget tapi gak pas *ngeles tingkat dewi. Gimana gak enak la mentega dan telurnya kebanyakan, tapi sangking enaknya setelah makan satu langsung eneg hahaha.
Yaaah..malu banget dah sama suami (apalagi waktu itu masih pengantin baru), eh malah si Ika bilang gini, "Tadi waktu diuleni aku udah mbatin mbak, kayaknya gak jadi nih." Jelas saya protes dengan gegap gempita, "Lo bukannya tadi kamu juga yang menyuruh menambah mentega dan telur?"
"Hehehe aku memang anak tata boga mbak, tapi paling gak bisa buat kue", jawabnya sambil nyengir.
Waladalah salah memilih guru ternyata. Ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur donatnya sudah jadi, apa mau dikata, sambil merem melek, suami, saya, dan Ika memakan donat itu. Mubazir kan kalau dibuang.
Ini nih penampakan donat gagal saya pertama dan terakhir, mengapa terakhir? karena setelah itu saya tidak pernah buat donat lagi hahaha.
 |
| Donat enak banget xixixi |
*Di malam hari sebelum tidur, suami dapat tugas tambahan mijitin tangan saya karena pegel habis
nguleni hahaha
Tulisan ini diikutsertakan dalam "Giveaway Nyam-Nyam Enny Mamito"