Social Icons

31 Aug 2012

Hidup Sekali Harus Berarti

Hidup Sekali Harus Berarti, Jadi Mengapa Harus Menunggu dan Menunggu untuk Bermanfaat bagi Orang Lain

Hidup Sekali Harus Berarti adalah terjemahan bebas dari salah satu kalimat puisi Diponegoro karya Chairil Anwar yang berbunyi "Sekali Berarti Sudah Itu Mati". Kalau dalam bahasa Jawa ada ungkapan "Wong Urip Iku Mung Mampir Ngombe" yang diartikan dalam bahasa Indonesia adalah "Orang hidup itu diibaratkan seperti istirahat sejenak untuk minum". Ungkapan yang sederhana tetapi makna yang terkandung sangat dalam.

Sering kita tidak pernah berpikir akan kematian padahal kematian itu lebih dekat dari urat leher. Karena itu kita sering menunda-nunda kebaikan; bersedekah kalau sudah punya rumah mewah, membantu fakir miskin kalau diliput oleh media, membantu anak yatim supaya dipuji atasan. Begitu banyak alasan, begitu banyak penundaan.

Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Melakukan apa yang kita bisa (saat ini) agar kita berarti bagi orang lain, negara dan bangsa tercinta ini, dan kehidupan kita pun berarti sebelum kita mati, serta InsyaAllah menjadi tabungan untuk kehidupan kekal nanti.

Sudahkah kita bermanfaat/berarti bagi orang lain, kawans?

Motivasi Berwarna untuk marsudiyanto.net

30 Aug 2012

Keberhasilan dan Kegagalan Chef Esti

Awal karir saya sebagai koki atau panggilan bekennya chef, sudah saya rintis sejak belia lo..Gak percaya? Coba deh disimak cerita inih ^_^

Kwetiau Goreng

Ketika duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, para guru mengadakan lomba memasak antar siswa khusus di kelas kami. Saya agak lupa untuk memeriahkan acara apa. Nah, karena notabene muridnya mayoritas beretnis Tionghoa (SD saya di Pontianak), maka lomba masaknya, lomba masak kwetiau goreng.

Kelompok saya terdiri dari 4 (empat) orang, saya (Esti), Linda, Christine, dan Lastri. Kebetulan dari kita berempat tidak ada yang Chinese, Linda dan Lastri orang Batak, Christine dari suku Dayak, sedangkan saya, bapak ibu Jawa tulen. Tapi kita semangat lo untuk ikutan lomba itu.

Mulailah kita bagi-bagi tugas, Linda bertugas bawa kompor (dulu masih pakai kompor minyak), Lastri bawa penggorengan, saya kebagian membawa bahan-bahan masakan serta bunga, dan Christine bawa pernak-pernik seperti piring saji lengkap dengan sendok garpu dan vas bunga. Untuk apa bunga dan vas bunga? Nanti deh penjelasannya.

Dan kita sepakat, sebelum lomba dilaksanakan, masing-masing dari kita belajar buat kwetiau goreng dari Emak masing-masing. Selama seminggu di rumah menunya kwetiau goreng hahaha.

Akhirnya hari perlombaan tiba. Pagi-pagi sekali saya diantar Bapak pergi ke Pasar Kota Baru (masih ada gak ya pasar itu?), untuk pertama kalinya saya belanja sendirian tanpa Ibu. Beli kwetiau putih yang masih mentah, dan beberapa jenis sayuran.

Sampai di sekolah langsung ketemu dengan teman sekelompok lain, sambil membantu Linda membawa kompor kita ngobrol ala anak SD tentu saja hehe

Lomba dimulai, mulai deh kita menyalakan kompor dan menumis bumbu, takaran bumbu dikira-kira sesuai petunjuk Ibu, ya iya lah seminggu masak itu mulu masak gak ingat takarannya hahaha. Mulai campur-campur segalamacam bumbu dan bahan, dan yang istimewa, Ibu sengaja membawakan kaldu daging sebagai tambahan supaya masakannya tambah maknyus.

Setelah kwetiau selesai, kita mulai menaruh di piring saji, sambil dihias dengan kulit tomat, cabe dan timun yang dibentuk bunga (pssst..kalo yang ini kita bawa jadi dari rumah haha). Waktu itu minuman pendampingnya jeruk hangat. Nah setiap kelompok memajang hasil karyanya di meja saji, lengkap dengan minuman dan sebagai pemanis tentu saja bunga dalam vas cantik. Dan kita diminta untuk memberi nama kelompok masing-masing. Daripada bingung-bingung kita kasi saja nama kelompok kita, Asoka, karena kebetulan bunga yang dipajang di vas adalah bunga Asoka.

Kemudian Bapak Ibu guru mulai icip-icip. Kita sempat minder dengan hasil karya teman yang kelompoknya terdiri dari anak-anak orang kaya. Piring sajinya bagus banget, penataannya juga oke, apalgi banyak gelindingan baksonya. Wah, mewah dan meriah deh dari segi penampilan. Tapi yah namanya anak SD mana mikir yang aneh-aneh, sambil nunggu hasil kita main lari-larian *tetep

Dan ketika pengumuman pemenang, Asoka nomer satu loh, senangnya *walau gak ada hadiahnya wkwkwk. Sampai pengen jingkrak-jingkrak deh gak nyangka banget
Bukan karya sendiri, foto hasil jajan :P

-----000-----

Itu adalah kesuksesan masa lalu saya, bagaimana dengan sekarang? Saya masih suka memasak seperti yang pernah saya ceritakan di Mari Masak, memasak bagi saya bukan hobi tetapi sudah pada kebutuhan. Ya kebutuhan untuk makan, dan kebutuhan untuk menyiapkan makanan untuk orang-orang tercinta. 

Saya suka mencari resep-resep baru di internet untuk referensi, karena buku masak ternyata mahal hehe. Dalam mencoba menu baru, sering berhasil (baca: enak dimakan) juga bukan berarti tidak pernah gagal. Mari disimak kegagalan memasak saya *sambil nutup muka karena malu.

-----000-----

Donat Enak Banget

Kalau untuk memasak masakan lauk pauk saya bisa menepuk dada, tapi kalau sudah bicara tentang membuat kue/roti, saya angkat tangan deh. Bukan karena gak suka kue (malah sebaliknya) tapi menurut saya membuat kue itu lebih ribet.

Tetapi ternyata suami tercinta nusantara saya suka banget ngemil *lirik suami yang tambah makmur. Dan kue favoritnya adalah DONAT. Waktu awal nikah ia pernah tanya, "bisa buat donat gak, Nok?" 
Jawaban saya, "Hmmm...dulu sih pernah mbantu ibu buat tapi belum pernah buat sendiri. Ntar ya Mas saya cari resepnya dulu". Weeiits...kalo cuma cari resep doang ya garing duonk, tentu saja setelah dapat resep (yang paling mudah hehe) saya kemudian mencoba buat sendiri.

Waktu itu ada si Ika (adik) yang membantu, karena si Ika dulu tamatan SMKK, ah tambah pede dong saya dalam pembuatan donat ini. Ketika kita mulai campur-campur bahan, si Ika dengan tegas wal yakin memberi instruksi kalau bahan ini kurang, bahan itu tambah lagi. Sempet sih merasa, kok kayaknya kebanyakan ya menteganya. Yah tapi mosok meragukan anak lulusan SMKK jurusan tata boga, emang minta dikeplak *si Ika badannya gede, takut ah xixixi.

Akhirnya sampai juga pada tahap terakhir yang paling tidak kusuka, nguleni, bahasa Indonesianya mungkin mengaduk pake tangan. Setelah nguleni *sambil pakai jurus karate segala, rasanya kok belum kalis juga, padahal udah cukup lama nguleninya *pakai dibanting-banting segala lagi. Haah..karena menginginkan hasil yang maksimal, saya melanjutkan kegiatan nguleni dengan penuh hikmad. Setelah dirasa cukup (walau ada perasaan ragu yang terselip) akhirnya saya menghentikan kegiatan yang melelahkan itu. 

Sambil nunggu adonan mengembang, kita bersih-bersih dapur. Setelah ditunggu satu dua jam bahkan sampai bangun tidur siang, kuintip-intip itu adonan kok gak mengembang juga ya. Gak sama seperti waktu membantu membuat donatnya Ibu.

Tapi karena sudah sore, akhirnya adonan itu tetep saya bentuk donat dan digoreng. Dan bagaimana dengan rasanya, waah enak banget tapi gak pas *ngeles tingkat dewi. Gimana gak enak la mentega dan telurnya kebanyakan, tapi sangking enaknya setelah makan satu langsung eneg hahaha.

Yaaah..malu banget dah sama suami (apalagi waktu itu masih pengantin baru), eh malah si Ika bilang gini, "Tadi waktu diuleni aku udah mbatin mbak, kayaknya gak jadi nih." Jelas saya protes dengan gegap gempita, "Lo bukannya tadi kamu juga yang menyuruh menambah mentega dan telur?"

"Hehehe aku memang anak tata boga mbak, tapi paling gak bisa buat kue", jawabnya sambil nyengir.

Waladalah salah memilih guru ternyata. Ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur donatnya sudah jadi, apa mau dikata, sambil merem melek, suami, saya, dan Ika memakan donat itu. Mubazir kan kalau dibuang.

Ini nih penampakan donat gagal saya pertama dan terakhir, mengapa terakhir? karena setelah itu saya tidak pernah buat donat lagi hahaha. 
Donat enak banget xixixi
*Di malam hari sebelum tidur, suami dapat tugas tambahan mijitin tangan saya karena pegel habis nguleni hahaha

Tulisan ini diikutsertakan dalam "Giveaway Nyam-Nyam Enny Mamito" 

28 Aug 2012

Terbakar Atau Dibakar

Jakarta Sekelompok warga di lokasi kebakaran Pondok Bambu, Jakarta Timur, tiba-tiba mengamuk saat berlansung acara talkshow TvOne yang membahas isu mengenai kebakaran yang terjadi di Jakarta, apakah itu disengaja atau tidak. Menurut pihak kepolisian berdasarkan informasi yang diterima, kelompok massa itu menilai tema yang diusung dalam talkshow tersebut provokatif sementara kondisi warga tengah dirundung musibah (detik.com)

Itulah sekelumit berita yang di tampilkan di media online (detik.com). Banyak asumsi dan isu yang mengiringi dalam berita tersebut, terutama kaitannya dengan persiapan pilkada DKI putaran yang ke 2. Berita bencana yang di arahkan dan dikait-kaitkan dengan politik itulah yang mungkin membuat warga menjadi berang. tidak sedikit berita mengenai pemberitaan bencana yang terekploitasi menjadi berita yang bersifat politik.

Di bagian mana di negara ini yang suatu permasalahan fokus di hal tersebut saja, bukan dikait-kaitkan dengan politisasi. Hal ini juga terkait dengan peran media dalam memberitakan suatu peristiwa. Sedangkan media sendiri akan memberitakan sesuatu pasti sesuai dengan idealisme dari media yang bersangkutan. Idealisme ini lah yang kebanyakan orang tidak banyak memperhatikan. Masyarakat tidak bisa memaksa bahwa media itu harus begini, harus begitu. walaupun aturan (dalam hal ini UU sudah mengaturnya) tidak bisa kita hindari berita-berita yang muncul dari media tersebut seperti mengirimkan pesan dari si pemilik media.

Ada jargon yang mengatakan "siapa yang menguasai informasi akan menguasai dunia". Jargon ini menurut saya banyak benarnya dan mesti diperhatikan esensinya kaitannya dengan keberadaan media. Kebutuhan masyarakat saat ini akan kehadiran media sudah sangat besar. Sehari saja tidak mengikuti berita dari media maka kita akan ketinggalan buanyak sekali informasi, dan efeknya kita jadi tidak gaul manakala orang-orang disekitar kita membicarakan hal2 tersebut. Media sudah terasa menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Hal inilah yang dimanfaatkan para pemilik media untuk mengarahkan dan menggiring opini dari masyarakat sesuai dengan kepentingan para penguasa media.

Akhirnya kita bisa mengerti dan menyadari mengapa sebuah peristiwa seperti bencana diatas dapat dipolitisi dan membuat masyarakat yang baru terkena bencana malah menjadi emosi. Apalagi kalo melihat kondisi politik yang lagi memanas di ibukota negara tersebut. Masyarakat kita sekarang sangat mudah emosi dan marah. disinilah seharusnya peran media massa untuk ikut berjuang memberikan informasi yang bisa mendinginkan dan menyejukan. Bukannya malah menjadi pihak yang menyulut ataupun bahkan membakar emosi masyarakat. Dan pada akhirnya pihak yang punya kepentngan dan pihak lain yang senang dengan kekacauan yang muncul akan tertawa terbahak-bahak dan tepuk tangan. Mari selamatkan masyarakat kita dari informasi yang menyesatkan.



Masyarakat kita terbakar atau di bakar ?
apakah media berperan ?
tergantung dari cara kita melihatnya dari kepentingan kita

18 Aug 2012

Giveaway: Asyiknya Berbisnis

Berbisnis? Saya sih lebih suka menyebutnya jualan. Sejak masih kecil, sekitar usia Sekolah Dasar saya sudah jualan. Waktu itu, seingat saya jualan cincin dan gelang. Kok bisa? Ya bisa dong. Barang dagangan saya beli di sekolah kemudian saya jual lagi ke tetangga. Cerdas kan? *memuji diri sendiri hehe.
Sejak saat itu saya mulai merasakan keasyikan berjualan. Hingga usia remaja, saya sempat ikut sejenis MLM, tapi kok saya merasa tidak cocok dengan metodenya, atau saya gak cocok jadi bawahan ya (baca downline) hahaha.

Ketika kuliah, saya diminta untuk konsentrasi belajar oleh orang tua. Jadi otomatis tidak ada kegiatan lain selain belajar, jalan-jalan, dan nge-mall hehe. Sempat tergiur buat warung tenda di daerah pusat kota, apalagi diajak join sama sahabat sendiri. Tapi ya itu surat ijin berjualan (SIB) belum dapat dari orang tua.

Setelah lulus kuliah, kan memang saatnya cari duit kan ya. Sambil cari pekerjaan tetap dan mikir-mikir mau bisnis apa, sekalian ngumpulin duit buat modal tentu saja, saya memulai karir sebagai guru les *tsaah. Tidak terlalu lama dari kelulusan, saya diterima jadi PNS di salah satu instansi (Alhamdulillah). Duit buat modal kan udah kumpul tuh, jadi bisa deh mulai bisnis lagi, ketika itu kepikiran mau buat usaha les, secara sudah ada pengalaman di situ, itung-itung mencerdaskan kehidupan bangsa *gaya.

Tapi lagi-lagi SIB belum bisa keluar juga, alasannya kali ini: nanti terlalu sibuk, kecapekan dan gak ada waktu buat cari teman (jodoh maksudnya). Haaah…

Begitu punya suami, kami berdua punya pemikiran yang sama, punya usaha sampingan. Awalnya kita mau buat usaha online penyediaan souvenir dan undangan unik untuk pernikahan. Sudah cari dan beli produknya dari mana-mana, sudah jeprat-jepret segala. Lah gak jadi, gara-gara suatu hal *sambil lihat barang dagangan yang mangkrak. Kemudian melihat peluang berjualan jilbab di kantor, rencana mau kulakan di Kudus, ketahuan Mami, SIB pun tidak keluar, alasan berikutnya: kapan Mami punya cucu kalau kalian sibuk wira-wiri *tepok jidat suami bwahaha. Akhirnya oh akhirnya , kita gak jadi jualan lagi deh *mengapa penurut sekali sih kita. Dan terakhir nih, ada peluang usaha buat membuka mebeler. Teman suami dari Jepara sudah bersedia menyiapkan barang dagangannya. Gratis bok, kita tinggal menyiapkan toko dan pegawai saja. Yah, tapi sebagai anak yang penurut, kita tetap menuruti kehendak Mami dan kami juga sangat menginginkan si dedek cepat hadir di keluarga kecil kami. Aamiin.#sambil elus-elus perut.

Postingan Ini Dalam Rangka Memeriahkan

GIVEAWAY Asyiknya Berbisnis

Blog CINTA DAMAI

*susah mbak postingan pendek, yang penting meramaikan ya hehe (malah curcol lagi)

13 Aug 2012

Tiga Puluh Enam

Tiga Puluh Enam Tahun
Kalian bersama membangun istana
yang disebut rumah tangga

Tiga Puluh Enam Tahun 
Kalian bersama menyambut mimpi
dan merajut asa 

Tiga Puluh Enam Tahun
Kalian bersama dalam suka 
yang juga bergulir duka

Tiga Puluh Enam Tahun
Kalian bersama berusaha menjadi orang tua terbaik
bagi kami bertiga

Tiga Puluh Enam Tahun
Kalian bersama dalam usia
yang semakin senja


Tiga Puluh Enam Tahun

Bukan waktu yang sebentar dalam sebuah mahligai rumah tangga

Semoga selalu sehat Papi dan Mami

Dan angka 36 akan berlanjut ke 37, 38 dan seterusnya...(aaamiiin)

Tidak ada yang bisa kami berikan selain doa dan rasa sayang
(dari anak-anakmu : Kurnia, Wahyu, dan Restu)  

cuma foto ini (kami berlima) yang ada di lepi *harap maklum

Selamat hari Senin kawans, semoga harimu menyenangkan.

2 Aug 2012

Karate vs Menari

Apa sih hal yang paling berkesan di masa kecilmu?

Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada saya, jawabannya bisa "ada dan tiada". Maksudnya? Begini (tarik nafas dulu), bisa jadi saya tidak sanggup menjawab karena saking banyaknya hal yang berkesan jadi susah mau mencari yang 'paling', sedangkan kalau saya jawab ada, nanti kasian yang baca, postingannya jadi panjang banget. Ibarat orang ngomong, cerita mrepet gak berhenti-berhenti qiqiqi. 

Tetapi karena pengen ikutan hajatannya Emak Gaoel, saya dengan terpaksa harus memilih hal (yang bukan mustahil) paling berkesan yang akan saya ceritakan disini. Mari berdoa semoga postingan kali ini tidak terlalu panjang, yang efeknya bisa jadi cerita bersambung *berdoa mulai ^_^

Sewaktu berusia sekitar 11 tahunan, saya dan Tole (adik lelaki) disuruh ibu dan bapak ikut karate. Ketika saya tanya alasannya kenapa karate, ibu menjawab, "Supaya bisa membela diri, buat jaga-jaga". Saya tidak begitu mengerti maksud jawaban ibu tidak ketika itu, tapi sepertinya hal tersebut tidak masalah bagi saya dan adik. Kita senang-senang aja. 

Kita latihan karate 3 kali dalam seminggu, Selasa, Kamis, dan Minggu. Untuk hari Minggu dimulai pagi jam 7 sampai jam 9. Sedangkan hari Selasa dan Kamis, latihannya di malam hari. Sekitar habis Isya, kami berangkat dari rumah. Seneng banget dah ikutan karate, bisa guling-guling di tanah, (kotoran-kotoran gitu hehe) terus ketemu teman-teman baru dari lingkungan yang berbeda. Kita kan tinggal di dekat perumahan-perumahan, yang notabene orangnya teratur dan berpendidikan, jadi begitu ketemu dengan orang-orang yang 'tidak selevel' ada excitement tersendiri (bukan bermaksud nggaya lo ya, wong saya juga tinggal di kampung *nyengir). 

Dan yang paling terkesan, saya murid cewek satu-satunya. Ada sih senpai (guru) cewek, tapi ia jarang masuk. Tetapi hal tersebut tidak jadi masalah besar, mungkin emang dasarnya saya cuek ya. Dengan bahagianya saya pun ikut berguling, menendang, dan berlari bersama teman-teman lain. Tapi sayang sekali latihan tidak berlanjut, karena ketika duduk di kelas enam harus mempersiapkan diri untuk Ebtanas. Dan ketika lulus Sekolah Dasar, kami sekeluarga boyongan pindah ke Jawa. Tapi paling tidak pernah merasakan latihan karate dan sempat mengikuti kenaikan tingkat, dari sabuk putih ke sabuk kuning ^_^

Pada saat hampir bersamaan, teman Ibu yang suaminya bekerja di TVRI Pontianak, membuat sanggar tari. Lagi-lagi saya dimasukkan ke sanggar tersebut. Kalau tidak salah nama sanggarnya, Permata Khatulistiwa *lupa-lupa ingat. Dan saya pun tidak protes, senang-senang aja. Apalagi ketika baru pertama kali ikut latihan langsung terpilih ikut grup inti. Sepertinya sih dianggap berbakat *masa sih. Waktu itu tari yang dipelajari tari-tarian dari daerah Sumatera, seperti Tari Serampang Dua Belas. 

Sempat pentas beberapa kali. Senangnya ditonton banyak orang, dapat tepukan, dan yang paling berkesan didandani hahaha *cewek banget ya senengnya dandan. Sama seperti karate, kegiatan di sanggar tari ini pun terhenti ketika mempersiapkan Ebtanas *sedih.

Ada kejadian yang teringat hingga saat ini, sanggar tersebut yang mendirikan salah satunya ada akses ke TVRI, jadi ada kesempatan kita tampil di Aneka Ria Anak-Anak (ada yang masih inget gak?). Karena kalau tari-tarian antrinya lama, maka diputuskan untuk deklamasi puisi. Yang dapat jatah tampil dua orang, salah satunya adalah saya. Kita berlatih dengan giat, menghapal puisi, dan belajar mimik serta gaya yang cocok dengan puisi yang dibawakan. Terus kita udah sempet rekam suara segala, jadi ntar pas shooting tinggal lipsync dan mimik muka dan gaya saja yang main *berasa artis. Tetapi oh tetapi, namanya belum rejeki, ketika saat shooting tiba, saya jatuh sakit. Ooooh tidak. Jadilah teman saya yang menggantikan. Hiks...belum saatnya tenar ini *sedot ingus.

-----000-----

Kedua kegiatan di luar sekolah tersebut saya lakoni pada waktu yang hampir bersamaan. Kalau sekarang sih bisa mikir, kok bisa ya antara yang lembut (menari) dan keras (karate) dilatih bersamaan? Tapi dulu nyatanya bisa tuh. Dimulai di saat bersamaan dan berhenti di saat yang sama pula. Sama-sama terhenti untuk Ebtanas dan kami pindahan. Sayang sekali ketika kami pindah, kegiatan positif tersebut tidak dilanjutkan lagi. Sempet menyesal sih hanya saja kondisi saat itu memang tidak memungkinkan. Kehidupan kami di Jawa harus dimulai dari nol. Jadi mana sempet bapak ibu mikir yang begituan. 

Untuk orang tua yang memiliki putra dan putri usia SD, ada baiknya mulai berpikir untuk memberi kegiatan luar sekolah yang positif terhadap mereka. Banyak manfaatnya lo. Punya banyak ketrampilan, pasti akan berguna untuk anak-anak kelak (paling tidak bisa buat postingan seperti ini haha)

Ini kisah yang berkesan bagiku, bagaimana denganmu temans?

Selamat hari Selasa ^_^

#Mohon maaf tidak fotonya, jaman dulu mana musim poto-potoan.

"Mak, ane ikutan giveaway-nya ye,mak! Kasih ane hadiahnya yang 
berupa buku (apa aje deh judulnya ane demen semua kok), ya!"

1 Aug 2012

Cinta Pada Foto Pertama

"Sejak kapan suka sama aku, Mas?" tanyaku kepada suamiku.

"Sejak pertama kali lihat fotomu", jawabnya.

Yang keluar dari mulutku setelah itu cuma, "Haaaah???"

-----000----- 

Percakapan tersebut terjadi dua minggu setelah menikah. For your information (sapa juga yang mau tahu, geer aja si Esti), aku dan suami saling kenal karena dikenalkan. Bukan dijodohin lo ya (dijodohin sebenarnya juga gak apa-apa ye). Waktu awal mau dikenalkan sempet mikir, jauh amat ya dia di Jepara dan aku di Semarang, mending cari yang dekat-dekat aja deh *emang ada

Tapi yah gak ada salahnya juga kenalan sih, kalau tidak jadi pasangan paling gak kan bisa nambah teman, pikirku ketika itu. Ternyata oh ternyata cowok Jepara itu sebenarnya tidak begitu suka dikenal-kenalkan gitu (diketahui setelah akan menikah). Ia pengennya cari istri sendiri. Ribet, katanya. Karena seringnya kan ditanyain mulu sama yang mengenalkan sudah sejauh mana hubungannya. Ish..emang bener sih, aku sendiri juga mengalami, tetapi sebagai wanita, aku menyadari untuk memulai perkenalan selain masuk ke sebuah organisasi atau lingkungan baru, cara tercepat dapat kenalan ya dengan cara ini. Tidak mungkin kan liat cowok cakep di mall terus ngajak kenalan gitu, gengsi atuh ^_^

Balik lagi ke cerita awal *fokusnya melenceng nih, setelah diberitahu bakal dikenalin itu, aku biasa-biasa aja, gak begitu mikirin. Setelah dua bulan dari pemberitahuan itu, yang mau ngenalin tanya, "Sudah dihubungi sama yang Jepara itu?"

Aku jawab saja, "Belum tuh. Emang orangnya seperti apa?" Akhirnya jadi penasaran juga, kok bisa-bisanya mau dikenalin sama cewek cantik *masak sih, kok malah cuek-cuek saja.

Singkat cerita, si cowok Jepara akhirnya telepon dan sms. Yah dari perkenalan awal kayaknya dia agak gak niat gitu. Setelah kontak pertama kali itu, besoknya waktu buka email kok ada email dari dia. Isinya foto. What??? Lha ngapain kirim foto segala. Apalagi fotonya itu lo, pakai seragam kantor, kayak om-om, batinku ketika itu. Iyuuuuh.....

Langsung sms untuk konfirmasi, jawabannya sih standar, namanya kenalan ya harus berusaha lebih kenal. Salah satunya ya dengan kirim foto itu. Di lain waktu jadi tahu kalau itu memang cara dia berkenalan, kalau liat foto ternyata aku merasa gak sreg, nanti kan keliatan. Waduh, segitunya ya si mas.

Dan dia pun dengan cara halus maksa minta dikirimin foto juga. Awalnya aku menolak, masih trauma dengan beberapa cowok yang modelnya nekat *sok laku hehe. Saking pengen liat fotoku, ia sampai cari tahu tentang Friendster-ku, waktu itu belum buat Facebook *kok kesannya jadul banget ya.

Ya jelaslah ia kecele, aku kan bukan tipe orang yang narsis, jelas gak ada fotoku disana. Dulu males banget deh dengan social media gitu, jadi cuma buat punya aja, gak pernah dibuka atau update, beda mah dengan sekarang hehe.

Akhirnya aku luluh juga, kukirim dua foto ke emailnya, satu pakai seragam kantor, satunya gak pakai apa-apa, ups jangan mikir macam-macam ah, foto yang satu cuma keliatan wajah aja, habis foto pakai handpone. Menurutku sih foto yang kedua gak begitu bagus, agak nge-blur. Tapi aku cuek-cuek aja, jadi mikir kenapa dulu gak kirim foto yang dandan gitu ya. Apa efek dari foto om-om yang dia kirim ya??

Ternyata justru yang dia suka foto asal-asalan itu. Ini kuketahui ketika suatu saat ia kirim MMS, isinya ya foto itu. Padahal kan aku ngirimnya lewat email, berarti di save dong sama dia? Gak geer sih, cuma bingung aja. Karena si Mas kesannya kadang baik kadang cuek. Jadi gak ada kepikiran kalau ia suka sama aku.

Anyway, setelah kirim-kiriman foto dan dia bilang liat Fs-ku, ya aku coba buka Fs-nya dia. Aduh, foto-fotonya resmi banget, hampir sama dengan yang dikirim ke aku. Tapi ada satu yang kusuka.

bibirnya itu lo wkwkwk
Well, kalau cinta pada pandangan pertama sih udah sering dengar, lha kalau cinta pada foto pertama baru kali ini dengar dan ternyata aku sebagai pelaku juga haha.

Setelah menjalani proses perkenalan via handphone, kita akhirnya ketemuan. Dan prosesnya ke pernikahan cepat banget. Psst...ternyata si mas gak keliatan seperti om-om *makanya aku doyan bwahahaha

Tahu gak sih, antara kenalan dan ketemuan pertama itu jarak waktunya setahun lo. Lamanyaaa....
Waktu kutanyakan perihal itu, jawabannya, "Aku kan harus mastiin kamu-nya bagaimana. Suka apa gak sama aku. Kamu orangnya gimana. Aku gak bisa gegabah, kan cari istri." Good answer sih. Tapi kelamaan atuh Mas, masak udah suka dari dulu baru ngomong setahun kemudian T.T

Dan pertanyaan berikutnya, "Lalu kenapa kok dulu kesannya kadang baik kadang cuek kalau kita telpon-telponan atau sms-an?"

"Hehehe...model cewek seperti kamu, kalau terlalu dikejar, ntar malah aku yang kamu cuekin. Harus pakai strategi buat naklukin kamu", jawabnya. Gedubrak....

-----000-----

Dan saat  ini, pernikahan kami sudah berlangsung selama 2,5 tahun. Kesabaran dan pengertiannya semakin membuatku semakin mencintainya dari hari ke hari. Orang lain bisa bilang dia keras kepala dan idealis, tapi kalau sama aku mah lemah lembut gitu deh ^_^

Kalau ditanya apa yang suka darinya,jujur aku sendiri bingung, aku cuma merasa nyaman berbincang dengannya dan bisa menjadi diri sendiri ketika bersamanya. Tidak ada cinta yang menggebu-gebu seperti di film-film ketika kami menikah. Yang ada hanya rasa bahagia karena telah menemukan pria yang insyaAllah bisa menjadi imam bagiku, yang dapat menjaga dan mencintaiku apa adanya. 



Untuk kamu-kamu yang sedang menanti saat bahagia itu tiba, jangan ragu untuk berkenalan dengan cara dikenalkan ya. Ambil sisi positif-nya. Niat baik insyaAllah hasilnya juga baik ^_^

#Puisi Cinta Tanpa Raga itu teruntuk dirinya
Foto yang membuat cowok cuek itu klepek-klepek tidak bisa tayang, belum pakai jilbab, mohon  dimaklumi *takut kondang hehe

Tulisan ini diikutsertakan pada acara kontesnya mbak Julie, 4 Tahun di Blogdetik: Selalu Ada Cinta